Cerita Mesum Nikmatnya Dioral Biarawati

0
315

Nikmatnya Dioral Biarawati

Cerita Mesum Nikmatnya Dioral Biarawati
Cerita Mesum Nikmatnya Dioral Biarawati

Warung Mesum – Pada awal mulanya perkenalkan namaku Bobby, saya lagi di Gunungkidul Yogyakarta. kabar seks nyata yg bakal kuceritakan berjalan beberapa thn yang dulu, dikala itu saya pun sekolah di bangku SMP dan usiaku saat itu kira2 tambah lebih kurang 15tahunan. Di jogjakarta saya masih dengan datuk nenekku sejak mungil, padahal ke-2 orangtuaku kaya di Jakarta. Entah apa alasannya mereka memercayakan diriku dengan embah nenekku.

yg terang bukan dikarenakan mereka tak bisa mengurusku atau problem subjek. Apa yg diberikan oleh ke-2 orangtuaku walau benar-benar lewat kake ninik mamak dapat dibilang berlebih bila di bandingkan bersama rekan-rekan sebayaku. mulai sejak mulai sejak baju, mainan, duit saku, dan berulang tidak sedikit pula yg dengan cara tak serta-merta menciptakan saya menjadi anak yg condong menyukai cari sorotan dan arogan. walau demikian prestasiku dalam bagian pendidikan dapat dibilang lumayan baik, sebenarnya saya mampu di terima di salah satu SMP Negri pujaan di daerahku.

diawal mulanya saya dapat memperkatakan kehidupan opa nenekku. Mereka menikah beda keimanan. Kakekku yang semenjak berasal desa menganut keyakinan Islam, padahal nenekku yang tengah benih ningrat-Belanda memeluk keyakinan Katolik. walau mereka berdua amat empati padaku, tapi saya lebih pada bersama eyang walopun saya beragama katolik pas dgn akidah ke-2 orang tuaku. tidak sedangkan embah mengajarkan menyangkut agamanya biarpun ana demikian pada. padahal bila saya mesti dalam dan mempelajari selayaknya bersama oma tapi yang ada saya senantiasa diomelin dan dituntut guna jadi anak yg baik dalam sudut apapun.

lantaran itulah saya menjadi amat sangat dalam dgn datuk, saya senantiasa berteduh dibalik datuk. Tapi seandainya kondisi telah terpojok dan aki tengah merasa butuh menurunkan saya guna nenenda, dan saya lebih pilih kabur sampai aki dan nenekku hingga gugup gimana saya dapat memperoleh makna kepercayaan yg baik, dikarenakan dalam seluruh mata pelajaran di sekolah, pelajaran keimanan ialah mata pelajaran yg paling datang dalam raporku. juru rawat Natalia yang ialah instruktur agamaku terkadang nyaris sudah kesabaranya kala mengajarku dalam strata. wawasan keimanan yg cangga ditambah langkah dan tingkah laku yg badung menghasilkan ia datang ke hunian dan mengupas bab kenakalan dan prestasiku yg tergelincir di sekolah.

perawat Natalia merupakan satu orang perawat yg bertugas di paroki dan tengah mengomeli aqidah Katolik di sekolahku. tidak hanya wawasan kepercayaan yang taknormal, sesungguhnya biarawati Natalia ini terus menjadi salah satu hal nilaiku tergelincir. bagaimanakah tak, tiap-tiap dia membimbing bukan ihwal pelajaran yg saya serap, tp saya bahkan tidak jarang membayangkan urusan juru rawat Natalia. bila dapat saya gambarkan disini, ia alamat bersumber NTT, dgn singularitas spesifik orang timur berkulit sawo matang, posturnya sanggup dibilang proporsional, tubuhnya ramping walaupun tak terlampaui tinggi, lekuk tubunya waswas terpatri dibalik pakaian keagamaan dgn takaran sesuai badan, belum semula ke-2 matanya yg jernih. dia tidak jarang kujadikan khayalan seks ku ketika saya beronani baik di hunian atau di toilet sekolah. makin apabila dirinya semula posting di papan catat, tangan kanannya yg tertanggung lantaran papan catat yg terlampaui tinggi dan tangan kirinnya yg cekam buku pedoman membuatku seolah mau memeluknya bersumber buntut, memijit toketnya sambil menggesek-gesekkan kontolku di pantatnya. Kadang sekali tempo mataku hingga terpejam melamun sungguh nikmatnya badan perawat Natalia. sampai buat sebuah hri …

“PLAKKKKK…” nada( mistar kayu di pukulkan di mejaku). Seketika mataku terbelalak, saat perawat Natalia telah ada di hadapanku sambil menerkam mistar kayu gede yg tadi dipukulkannya di mejaku.

“Bobby, mencoba anda jelaskan menyangkut Nabi Musa seperti yg biarawati ajarkan barusaja? kata juru rawat Natalia sambil menatapku tajam.

saya tertunduk sambil menggaruk-garuk kepalaku solo dan coba menjawab problem alamat biarawati Natalia,
“E..anu..anu biarawati� jawabku gagap.

dgn jumlah anak didik yg beragama Katolik singkat ditambah kesempatan yang demikian sunyi ketika perawat menantikan jawabanku, membuatku tidak berkutik kepada membujuk pertolongan bujukan semenjak sohib di dalam tingkatan agama.

Beberapa menit saya terdiam dan ragu-ragu tidak sanggup memaparkan berulang pelajaran yg baru saja diajarkan juru rawat Natalia.
telah� sana anda ke luar dan alam di luar warga� tutur juru rawat Natalia.

dgn jalan gontai dan tidak dengan pembelaan akupun berlangsung ke luar dan sila di depan pintu gerbang area keimanan Katolik. hingga bagi hasilnya bel pelajaran menunduk titah telah sekesai warga aqidah. saya pun terus beruang di depan pintu gerbang tempat religi dan menagih apa yg dapat berjalan setelah itu. Kudengar tahmid sanding pelajaran aqidah telah rampung dan tidak berapa diwaktu perawat Natalia ke luar ruang. dirinya menatapku awal kejauhan, namun dikala melintasiku perawat berlalu bersama pendirian dingin tidak dengan menyapaku.

“Sus..suster…” ucapku gagap. saya terjadi menguber dirinya, namun perawat Natalia terus tidak bergeming. saya hasilnya memberangsangkan diri guna menyenuh tangan tangan kanannya. Seketika biarawati Natalia menghampirkan langkahnya di koridor sekolah.

juru rawat� saya minta belas kasihan atas penyakit tadi” ucapku.
saya� akhir hayat bakal bersikap baik di level dan memandangi pelajaran…kalo butuh juru rawat dapat memberikanku vonis atas cema yang saya laksanakan tadi” imbuhku. Kali ini saya berdiri menahan di jalan perawat Natalia sampai dia berakhir dan ke-2 bola matanya yg manis menatapku terus bersama tajam.
“Baik seandainya itu permintaanmu, biarawati minta anda datang ke Susteran jam 4 senja dan saat ini anda kembalilah ke kelasmu.” ujar juru rawat sembari bejalan kembali.
“Terima kasih biarawati� kataku. saya menaklukkan sirah dan menggeser tubuhku terhadap membirikan jalan.

sedikit narasi, jam telah beri tahu jam 3 senja, saya langsung tergopoh-gopoh bersiram, sesudah berpakaian tuntas saya segera bertolak ke susteran.
tidak berapa lama saya juga hingga di depan gapura susteran. sesudah mobil kutepikan saya memukul gapura kubu metal yg terselimuti percakapan dan keluarlah juru rawat Natalia.

“Eh anda Bobby, ayo mari masuk” sapa suster.
terimakasih� sus” jawabku.
anda� sama siapa-siapa? bertanya biarawati dgn bahasa tubuhnya seolah menyoalkan siapa-siapa yg menungguku di dalam mobil.
saya� tunggal sus” jawabku lagi.
anda� nyetir mobil solo? tanyanya kaget diikuti dgn tarikan nafas panjang dan gelengan kepala.
“Iya biarawati� ” jawabku sedikit dgn perasaan singkat bangga namun konsisten menunjukan roman kecut hati dapat reaksi juru rawat Natalia.
“Emang orang lanjut usia anda memungkinkan anda bawa mobil tunggal? tanyanya lagi.
“Papa dan mamaku di Jakarta sus, saya alamat mungil ikut aki nenekku” jawabku. hasilnya senja itu biarawati Natalia tahu berkenaan keadaanku yg seharusnya, kian iras wajahnya yg umumnya datar berulang kulihat beralih menunjukan rasa terenyuh dgn keadaanku.

abdi berdua bersila di suatu bangku panjang area pengunjung susteran sambil saya menuturkan keadaan kehidupanku dan perlahan kelapangan makin meleleh, tambahan pula keadaan susteran ketika itu terus sepi, cuma ada saya dan juru rawat Natalia. kesudahannya saya tahu pun bahwa lokasi itu cuma ditinggali oleh 3 orang biarawati diantaranya yaitu juru rawat Angela, juru rawat Anna dan perawat Natalia, mereka bertiga punyai kesibukannya masing-masing. perawat Angela yg satu orang sirah Sekolah SMA lembaga Katolik lebih tidak sedikit mengakhiri diwaktu di sekolah terkecuali jalankan layanan gereja atau melawat ke rumah-rumah penganut di daerah paroki.

biarawati Anna yg telah berusia kembali tidak berlutut aktif meneruskan layanan gereja, layanan umat manusia, dan tidak jarang laksanakan lawatan ke tempat-tempat yg disucikan oleh pengikut Katolik baik di dalam ataupun luar kota lantaran diminta bani Adam bagi jadi guru rohani. padahal juru rawat Natalia yg lebih tidak sedikit masih di susteran dapat dinamakan tambah baru di sektor paroki awak. kerja susunan perawat Natalia terkecuali berbakti gereja merupakan juga sebagai pembimbing anutan di sekolahku. tidak cuma belum lama ditugaskan di paroki ini perawat Natalia tambah tak mempunyai sepeda motor seperti biarawati Angela dalam beraktifitas,hanya gerakan yg asli dirasa butuh saja yg sanggup dihadiri olehnya maka praktis ia lebih tidak sedikit sedang sendirian di susteran.

juru rawat� sedih mendengarnya Bob, tentu anda teramat merindukan ke-2 orangtuamu ya?” bertanya juru rawat sambil mendekatkan beliau bersama situs badan yg mengarah padaku sambil mengusapkan tangannya di rambutku.
“Iya perawat� jawabku singkat.

elusan tangan biarawati di kepalaku kala itu menghasilkan tubuhku sontak merinding seperti tersengat setrum walaupun cuma taksiran detik.
saya spontan menonton roman perawat Natalia yg ketika itu bersila disampingku, mau kira kira kudekatkan wajahku dan mencium tuturan tipisnya, ooohhhh…

seterusnya dirinya merampas tangannya bermula kepalaku dan ubah letak duduknya sambil merampas nafas panjang. Kepalanya menengadah keatas lumayan lama dan kala itu terus kulihat matanya berkaca-kaca.
biarawati� mengapa? Apa ada perkataanku yang salah?” tanyaku penasaran.
“Ga kog Bob, ga ada yang salah dgn ucapnmu” jawabnya sambil melumas air matanya yang menetes di segi matanya dgn jarinya.
biarawati� cuma …. ” biarawati Natali menghampirkan kata-katanya sambil merengkuh nafas dalam-dalam.
“Bobby minta pembebasan jikalau ada salah, absolusi telah bikin juru rawat sedih bersama narasi Bobby…” ucapku.
lain� kog Bob, anda ga salah …. biarawati sedih dikarenakan teringat orang sepuh di NTT … dikala ini Ibu juru rawat masih sakit parah dan dirawat di hunian sakit ….” jawabnya.
“owh … magfirah perawat, Bobby gak tahu …” ucapku.
mau� sekali perawat mampu pulang tapi perawat belum dapat ….” ucapnya lagi.
tabah� ya biarawati ….” kataku. Entah mengapa saya sontak satria memperoleh dan menggenggam tangan perawat Natalia.
yg� utama sekarang ini kita doakan ibu biarawati biar keadaannya makin membaik, kita doakan semula saudara-saudara disana supaya selalu diberikan kekukuhan dan energi dalam memeriksa ibu juru rawat� ucapku coba meneduhkan suster.
Seketika itu serta perawat Natalia memaparkan tangannya alamat genggamanku dan memelukku awal samping dgn erat.
“Terima kasih Bobby…. anda baik sekali …. sewaktu ini perawat telah salah menilaimu …” katanya.

mewarisi perlakuan itu, jantungku serasa mogok berdetak ditambah toket perawat Natalia menempel di lenganku, meskipun benar-benar kala itu semula tersendat oleh pakaian yg hamba kenakan. Rasa belas kasih yg ada dalam diriku beralih drastis jadi hasrat yg tunu disaat gundukan gayal yg ragu-ragu terkira dalam otakku, tonjolan jangkap berdimensi juga namun padat dan kencang itu lembut menekan tangan kiriku. Dalam anggaran detik biarawati Natalia telah membeberkan pelukannya ketika saya terus berikhtiar terhadap menikmatinya.

“Ma..maaf Bob…suster tertarik peluang� tuturnya terbata-bata dan lagi mengalihkan kedudukan duduknya.
“Gapapa perawat … ” jawabku biarpun selayaknya saya amat sangat mau menyerahkan tubuhku sbg ruangan pelampiasan emosinya.

sebentar seterusnya hamba berdua sama-sama terdiam, entah apa yg ada di pikiran juru rawat diwaktu itu namun dalam benakku hanyalah kelembutan toketnya yg juga saja terngiang.
“Udah nyaris tengah malam Bob, sebaiknya anda pulang” ujar suster.
dulu� macam mana dgn ketetapan atas kesalahanku di warga tadi sus” tanyaku.
tak� ada keputusan pada anda, perawat cuma minta anda lebih fokus dan benar-benar percaya dalam menggali ilmu … dan sekarang ini perawat mau memohon solo guna kesembuhan ibu …” papar suster.
“Baik juru rawat, bila demikian Bobby pamit …”
“Terima kasih ya Bob, berhati-hatilah di jalan …”
saya menganggukkan sirah dan membalikan badan menuju gapura keluar..
“Bobby … ” panggilnya sembari terjadi mengikutiku keluar.
“Tolong jangan sampai ceritakan persoalan tadi bagi siapapun” pesannya.
“Dan satu pun, kapanpun anda ingin, anda bisa datang kesini….” imbuhnya.
“Iya biarawati, Bobby pamit …”

permulaan diwaktu itu hubunganku dgn juru rawat Natalia makin membaik, di selanjutnya hri disaat saya berpamitan terhadap embah nenenda buat menyadran ke susteran, makin nenenda acapkali menumpangkan makanan atau lauk pauk pada setengah biarawati disana. benar-benar perihal ini tidak alami apabila dilakukan oleh cukup umur khususnya laki-laki seumuranku, namun saya tidak peduli, beraneka argumen kugunakan supaya saya mampu senantiasa dalam bersama biarawati kesayanganku itu.

sejak mulai permulaan mendapati ketentuan, pengistimewaan imanku, atau argumen mewariskan layanan dan loyalitas terhadap gereja, (gereja dalam arti luas). demikian serta bersama biarawati Natalia, saya percaya dirinya tentu lakukan aspek yg sama buat juru rawat lainya, zona atau manusia yg bisa saja melihatku wara wiri di susteran itu. memang lah tidak tidak jarang dan tidak tidak sedikit yg mampu kulakukan disana, contohnya seperti menyiangi halaman susteran, mengusap dan mengepel tegel atau berkonsultasi menyangkut perkara keagamaan dan seluruh itu kulakukan dgn tidak dengan terpaksa.

Ini merasakan ini yakni interaksi yg eksentrik tapi entah mengapa lagi saja kujalani dan begitupun kurasakan dgn juru rawat Natalia. interaksi awak tidak sedang seperti satu orang siswa guna gurunya atau satu orang rohaniawan bersama umatnya. aku telah seperti rekan, apalagi seperti sepasang taruna yg menaruh perasaan satu sama lain, apakah dirinya menaruh persaan yang sama seperti yang kurasakan? sampai guna sebuah waktu,
“Bobby bisakah anda mengantar perawat ke goa tritis hri pekan besuk?”
sanggup� perawat, emangnya ada program apa disana?”
“Ga ada program husus sih, biarawati cuma mau lawatan dan laksanakan zikir pribadi saja”

hri pekan hasilnya saya bertolak kunjungan. Rencananya memang lah sepulang asal misa di gereja cepat pergi ke ruangan lawatan, namun dikarenakan perdana periode hujan yg menghasilkan udara menjadi istimewa dapat ditentukan. Terkadang hujan sontak datang dan mogok tidak dengan dapat dikehendaki, sama seperti buat hri itu. Sedari pagi hujan mengairi kota abdi, walau tak terlampaui lebat namun berjalan lumayan lama. beta justru telah berencana mengakhiri maksud dikala itu, sekali juga entah mengapa kelihatannya ada rasa yg menggebu menghasilkan saya dan juru rawat Natalia konsisten bertolak kesana disaat hujan mulai sejak reda.

Mobil Toyota Starlet yg kukendarai telah hingga di ruang parkir goa tritis. biarpun demikian perjalanan belum rapi lantaran benar-benar bagi menggerapai ruangan itu mesti dilanjutkan bersama berlangsung kaki lewat jalan setahap terjal dan naik turun perbukitan. Di perjalanan, saya bak seseorang pangeran yg tambah menikmati keindahan alam dgn seseorang wanita yg kece kece disaat itu. sungguh tak, nanyian merdu nada alam seolah mengiringi perjalanan abdi melewati jalan bebatuan yg terjal dan licin di ruang itu. kapan-kapan saya dgn cepat memperoleh tangan biarawati Natalia yg kesusahan melangkahkan kaki di bebatuan terjal atau tanjakan curam, justru aku pernah beberapa kali terikut kejadian sampai gegabah menerangkan tangan. keinginan birahi yg rata-rata menirus disaat melamun juru rawat Natalia menemaniku beronani, sekarang ini ditambahi bersama perasaan ganjil yg belum sempat saya rasakan. Detak jantung yg berdegup makin kencang dan nafasku semula tidak beraturan. Oh… apakah ini yg disebut dgn cinta?

hingga di goa tritis kulihat sedang ada beberapa visitor yg lakukan zikir disana. tidak utang kamipun memohon dgn, meski seterusnya juru rawat Natalia mempersilahkan saya buat menunggunya sedikit lantaran ia mau mengibarkan doa-doa khususnya dengan cara pribadi.
saya berjalan-jalan mengitari tuturan goa sambil mengaktifkan sebatang rokok sambil meminta perawat Natalia rampung bersama doanya. biarawati Natalia benar-benar tahu jikalau saya merokok namun dirinya tak sempat semula memarahiku, cuma terkadang menasehatiku bakal ujung tanduk rokok, atau hal duit pembelian rokok yg lebih baik kutabung . pertalian abdi memang telah hingga kepada tutul di mana aku mampu menyabet penghinaan masing-masing.

hri telah makin senja dan kurik hujan telah sejak mulai turun, saya terburu-buru memperingatkan perawat Natalia guna langsung menggarap doanya dan serta-merta turun asal bukit. cuma tengah saya berdua yg sedang ada di dalam goa dan saya putuskan bagi cepat pulang. Hujan berulang turun dgn derasnya mengejar-ngejar saya mesti berdekapan di bawah payung lipat yg telah disiapkan oleh biarawati Natalia. semestinya saya sanggup menikmati ini, namun hujan yg makin deras memaksaku bagi lebih bersemedi bersama jalanan yg tak simpatik sampai kuputuskan buat berlindung di suatu aula tidak jauh awal goa itu. keadaan yg hening ditambah hembusan atmosfer yg kencang menerpa badan ana yg singkat basah terserang hujan, menciptakan saya berdiri berhimpitan di teras aula itu.

biarawati� sebaiknya kita berlindung sambil meminta hujan mereda …” kataku coba memecah kesunyian waktu itu.
“Iya Bob…” jawabnya menggigil dgn tangan yg disilangkan di dadanya seolah coba menghangatkan tubuhnya sendiri.

dengan cara langsung kutelusupkan tangan kananku diantara punggung juru rawat Natalia bersama kubu aula yg dingin. Kugenggam tangan kanannya dan kuelus perlahan sembari berkata,

lepas� perawat, Bobby kasian menyaksikan biarawati kedingan seperti ini” ucapku.
juru rawat Natalia tak merespon kata-kataku, cuma kulihat matanya mengerling kepadaku. biarawati Natalia cuma memandangi ke depan, sepanjang masa meringkuk membantai sirah menyangga dingin yg menerpa abdi senja itu. mau tampaknya kudekatkan wajahku dan kukecup pipinya, namun diwaktu itu saya tambah ragu-ragu. sampai hasilnya saya telah merasa tidak wenang menyatakan peasaanku kepadanya.

perawat� Bobby empati amat sama perawat� kataku memberangsangkan diri.

selanjutnya perawat Natalia menyimpangkan wajahnya kearahku, namun ia cuma berdiam diri disaat berpandangan muka dalam celah yg amat sangat dekat.
saya� pula belas kasih sama anda Bobby” balasnya. Selang beberapa ketika perawat Natalia terhubung bibirnya, biarpun ketika itu dirinya menundukan kepalanya ketika melantaskan rasa di sayangkan kepadaku.

Bagai lepas landas diudara kala itu, entah hujan atau setan penunggu bukit inipun seolah bakal dapat saya hadapi kelak, yg mutlak kala ini saya sanggup berlama-lama bersama favorit hatiku.

“Terima kasih juru rawat� ucapku. saya melumas tangan kanannya dan bila-bila saja kuremas lembut.

hamba berdua larut dalam suasa sunyi, jantungku berdesir. sewaktu-waktu aku salig lihat-lihatan selanjutnya menyimpangkan muka. sampai kuberanikan diri mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya. juru rawat Natalia tidak menundung, namun dirinya cuma mengalahkan kepalanya. saya makin jantan dan kuubah posisiku sampai awak tukar berhadapan. juru rawat Natalia menatapku dan hamba sedang tukar berciuman. Kali ini juru rawat Natalia coba mengganjar ciuamku, narasi dan lidah beta silih berpagutan seolah mau tukar menunjukan kekuatan cinta aku satu-sama lain. saya yg benar-benar telah terbiasa main-main cinta bersama pacar-pacarku, ditambah dgn referensi bioskop biru yg tidak jarang kutonton, membuatku tidak puas bersama faktor itu. Kontolku yg telah kaku dikala saya tukar berpelukan di bawah payung, jadi makin akbar dan menegang memburu-buru perawat Natalia. Kuusapkan tanganku di punggungnya sambil saya terus silih berpagutan, suka-suka kuturunkan sampai menyangkut pantatnya yg benar-benar sempurna kencang seperti bayanganku selagi ini. hingga sampai waktu saya hendak menyingkapka roknya, biarawati Natalia membayankan ciumannya dan seterusnya mendorongku biar menjauh sambil berbicara.

janganlah� Bobby, kita telah terlampaui jauh dan saya rasa kita telah teramat salah dan berdosa”
Emosiku bergejolak dikala itu, daya pikir sehatku sampai-sampai makin sirna disaat kudengar kata-kata perawat Natalia itu.
“Tapi perawat, Bobby benar2 pengertian sama perawat� ucapku menyakinkan.
saya� tau dan saya tengah tambah belas kasih sama anda tapi…” ucapnya terpotong.

saya juga mendekatinya dan kupeluk badan juru rawat Natalia.
perawat� ijinkan Bobby menunjukan rasa empati Bobby guna juru rawat, setidaknya kepada sekali ini saja perawat� ucapku memohon.

Entah setan apa yg merasukiku maka kata-kata itu sontak ke luar permulaan firman. Mata aku lagi bersaing seketika perkataan aku serta lagi sedang berpagutan. Kutarik tangan kanan biarawati Natalia yang semula terasa ragu menelusup ke dalam lancingan jeansku, lagi terasa sulit sebab aku kembali tengah menikmati lidah aku yg tengah silih bersaing. bersama gancang kubuka kancing dan retsliting celanaku sampai kontolku semula terlepas tunjuk jari meskipun lagi dalam genggaman tangan perawat Natalia. Kubimbing tangannya bagi memutar kontolku yg gede dan panjang itu.

Sementara saya juga bersemedi dgn bibirnya, sebarang masa kuremas toketnya alamat luar bajunya. sampai ketika adonan tangannya kurasakan makin berirama, kutekan ke-2 bahunya kebawah. perawat Natalia nampaknya telah sebentar wawasan dgn maksudku. dirinya telah dalam kedudukan simpuh dan dihadapannya telah tunjuk jari kontolku yg lurus acung, kepalanya menengadah dan ke-2 bola matanya menatapku dalam-dalam.

tidak dengan kata-kata seakan-akan ia tahu apa yg mesti diolah kala kugerakkan pantatku perlahan sampai penghujung kontolku menggelisahi bibirnya. Bibirnya yg slim perlahan terpapar seolah mempersilahkan kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Perlahan kepalanya mulai sejak bertenggang maju-mundur dgn penuh perasaan,”Plooop..ploop…slurppp…”

“Aaahh..terus juru rawat sayang…enak betul-betul sus…aaahhhh…” desahku sekenannya sementara sering-sering kulihat juru rawat kesayanganku telah sejak mulai dapat diandalkan mengurut kontol besarku dgn mulutnya .
“Oooohhh pun ssuusss…aku ingin keluaaarrr…oohhh….” rancuku. Seketika itu perawat Natalia makin memperpendek kocokannya dan menyedot isi kontolku. Dan tidak berapa lama,

“Croooorr…croot…crooot…” perawat Natalia terperanjat dan seketika mendeskripsikan kontolku ke luar berasal mulutnya. Spermaku menggebos ke luar merendam sabda dan muka biarawati Natalia. dirinya segera mengelap ampas kelebihan spermaku yang menyalurkan mukanya. dirinya pula berdiri dan berkata,

“Iiiihh Bobby anda bengis� saya cuma tersenyum dan membiayai celanaku pun. Kudekap badan kekasihku itu dan kukecup keningnya, kamipun lagi berpelukan sambil menuntut hujan kembali di hutan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here