Menikmati Vagina Legit Guru Les Anakku Yang Bohay

0
226

 

Menikmati Vagina Legit Guru Les Anakku Yang Bohay

WSDBOLA88 – Namanya Indri,Umurnya kutaksir sekitar 35 tahunan. Meskipun tidak begitu muda namun cantik dan sexy mukanya selalu terlihat bersih. Wajahnya hanya dilapisi make-up tipis dengan lips-gloss pada bibirmya serta farfum berwangi kembang selalu tercium dari tubuh Bu INdri. Maklum sudah berumur, badan Bu Indri sedikit gempal dan sepasang buah dadanya pun besar dan terlihat masih montok .

Seperti biasa pagi itu Bu Indri datang ke rumahku untuk mengajar les anakku. Aku pun mempersilahkannya masuk.

”Eh, dik Lan, anak-anak sama dik Wati ke mana?” Tanya Bu Indri.

”Iya bu saya minta maaf sama ibu karena lupa ngasih tahu kalau hari ini anak saya libur dulu soalnya ikut ibunya ke rumah saudara, bantu-bantu mau ada hajatan”. Jawabku.

“Oh begitu, nggak apa-apa, wah dik Lan bujangan lagi dong hari ini?” Kata Bu Indri sambil tersenyum tipis.

Aku hanya tersenyum menanggapinya, lalu aku tawarkan padanya minum, pertamanya sih dia menolaknya tapi setelah kutawarkan lagi akhirnya Bu Indri mau juga. Aku pun segera pergi ke dapur membuat minuman.

“Kopi aja yah, Bu Indri” Tawarku.

”O, yah nggak apa-apa, apa aja deh”. Jawabnya.

Tapi tiba-tiba otak ku mulai memikirkan yang bukan-bukan, sewaktu aku ke dapur, Bu Indri duduk di atas sofa dan kulihat kain yang di pakai Bu Indri tersingkap menampakkan paha Bu Indri yang agak besar. Aku mencuri pandang sedikit sambil terus berjalan. Karena mataku asik memperhatikan paha Bu Indri aku tidak sadar kalau saat itu sudah dekat dinding dapur hingga kepalaku terbentur, ku gosok-gosok jidatku untuk menghilangkan sakit. Melihatku terantuk Bu Indri langsung bangun dan mendekatiku.

“Eh.. dik Lan.. kenapa?” Tanya Bu Indri.

Aku tak menjawab, sedangkan wajahku meringis menahan sakit.

“Ada apa sih dik Lan? Bu Indri bertanya lagi sambil tersenyum, mungkin lucu melihatku meringis, sedangkan tangannya diulurkan untuk memegang tanganku yang sedang menggosok-gosok jidat.

“Nggak apa-apa bu..,” Jawabku.

Setelah tahu jidatku tidak apa-apa Bu Indri tersenyum lagi lalu dilepaskan pegangan tangannya yang memegang pergelangan tanganku, dan aku terus ke dapur untuk menyiapkan minum untuk Bu Indri dan sesudah siap kemudian ku hidangkan di meja tamu di depan Bu Indri.

”Kopinya di minum ya dik..” Kata Bu Indri sambil mengangkat gelas kopi lalu menghirupnya perlahan setelah meniup-niup permukaan air kopi agar tidak terlalu panas.

”Oh iya silahkan Bu..,” Aku mempersilahkan.

Saat itu nafsu seksku kembali naik ketika kuperhatikan lagi paha Bu Indri yang kembali tersibak, karena Bu Indri duduk persis dihadapanku, aku dapat melihat dengan jelas hingga ke celana dalamnya yang berwarna krem. Tapi lama-lama Bu Indri rupanya sadar, lalu dibetulkannya letak kain yang dipakainya sehingga pahanya tertutup.

“Wah.. dik Lan ini nggak boleh melihat pemandangan, matanya sampai nggak ngedip-ngedip.” Canda Bu Indri mengagetkanku.

”Ah Bu Indri bisa aja.” Elakku sambil cengar-cengir.

Nafsu seksku kian terbakar, otakku dipenuhi fantasi seks dengan Bu Indri, bisa nggak yah aku ngedapetin wanita berusia 50 tahun ini, bisik hatiku bertanya. Ku coba mereka cara agar nafsuku terhadap Bu Indri dapat terlampiaskan . Aku memang sangat suka wanita yang sudah berumur seperti Bu Indri, bagiku mereka lebih seksi juga lebih memahami dan tidak egois dalam bermain sex.

“Er.. air kopi ni aja kah yang boleh hilangkan dahaga?” tanya aku dengan muka selamberr aja.

bu Indri. tersentak sekejap.

“…maksud dik Lan? ”

”Eh.. mana ada maksud apa apa? Saya hanya bergurau saja..” kata aku.

Untuk kesekian kalinya, setelah Bu Indri menghirup kopi, diletakkannya gelas kopi di atas meja, tapi ketika itu Bu Indri lantas bangun. Aku diam saja, dalam hatiku bertanya Bu Indri mau ngapain yah?. Ku lihat Bu Indri berjalan menuju ke lemari dimana aku memajang benda-benda hiasan.

“Istri dik Lan cantik yah?, anaknya juga cakep” Katanya sambil mengamati foto istriku dan anakku.

“Pasti dong bu, siapa dulu bapaknya” kata aku mencoba bercanda.

“Katanya istri dik Lan sedang mengandung anak kedua?” Tanya Bu Indri.

Aku mengiyakan.

“Sudah berapa bulan?”

“5 bulan Bu”.

“Wah, itu artinya air naik ke kepala dik lan?” Lanjut Bu Indri sambil memandangku.

“..Emmh, maksud ibu? ” Tanyaku tidak mengerti maksud perkataan Bu Indri.

”Nggak usah di terangin juga dik Lan nanti pasti ngerti, tadi kan dik Lan puas memandang selangkangan ibu memangnya ibu nggak tahu, udah gitu gaya dik Lan ini seperti orang yang tak puas saja” Serang Bu Indri.

“Tapi.., tadi itu saya, eu.. eh..,.. bukan.. anu..,” Kata ku tergagap tak tahu harus berkata apa untuk membela diri.

“Ya sudah dik Lan, tenang aja mungkin rezeki dik Lan bisa melihat paha ibu.” Kata Bu Indri sambil tersenyum aneh.

Aku bingung melihat sikap Bu Indri, hatiku bertanya-tanya apa sih maksud Bu Indri sebenarnya.

“Istri dik Lan perginya lama nggak?” Bu Indri bertanya.

“Sepertinya sih lama bu, soalnya dia pergi kerumah uwaknya, mau ada hajatan katanya, jadi ya.. bantu-bantu disana, malah mungkin nginap disana” Jawabku.

“Oh.. gitu.. toh” Kata Bu Indri.

Bu Indri lalu membalikan badannya dan berjalan menuju kembali ke sofa lalu di hempaskan badannya.

”..Ssshh, ahh.., panas banget yah, rasanya semua bagian badan ibu berkeringat nih..” Gumam Bu Indri, kemudian dibukanya kerudung yang dipakainya.
Aku hanya diam sambil memperhatikan saja.

“Apa Bu Indri mau mandi?, atau mau buka baju saja, silahkan saja bu” Kataku. Kuberanikan diri untuk mulai memancingnya ke arah situasi yang kuinginkan.

“Kalau iya gimana dik Lan, tapi tutup dulu dong gordennya nanti keliatan orang nggak enak.” Sambut Bu Indri sambil melihat ke arah gorden.

Entah perasaan apa yang kurasakan ketika itu, aku segera bangun, kutarik kain gorden sampai rapat sambil membelakangi Bu Indri. Samar-samar ku dengar bunyi resleting di buka, aku menoleh kebelakang, nampak Bu Indri sedang membuka kain bagian bawah yang di pakainya lalu melepasnya.

“Jangan berdiri saja dik Lan, kalau mau lihat, kesini dong biar dekat.” Goda Bu Indri.

Mendengar itu, segera ku dekati Bu Indri yang tengah menyandarkan dirinya atas sofa, dengan hanya memakai baju kurung tanpa kain bawah. Mata Bu Indri tampak dipejamkan sambil tangannya mengipas-ngipas badannya, sedangkan aku bermaksud kembali ketempatku semula, namun tiba-tiba Bu Indri menarik tangan aku saat aku melintas di depannya hingga badanku terhuyung mau jatuh di atas tubuhnya, kemudian tanpa ku duga Bu Indri lalu menarik ke atas baju kurung dia, dan terpampanglah bra berenda sexy yang menutupi buah dada Bu Indri yang besar. Mataku terbelalak melihatnya.

Dia kembali menyandarkan dirinya ke sofa, aku masih berdiri bingung di samping Bu Indri, kemudian bu Indri menarik pantatnya ke tepi sofa lantas bangun dan berdiri.

“Dik Lan, ibu mau ke kamar mandi, mau mandi biar segar.” Kata Bu Indri .

Aku mempersilahkannya, lalu berjalan di depannya untuk menunjukan kamar mandi. Tak lama, terdengar suara air jebar-jebur sepertinya Bu Indri sedang mandi, tiba-tiba ku dengar suara benda jatuh dari dalam kamar mandi.

“Kelumpanggggg!!!!!! Pang pang pang!!!!”

”Aduhhhhh……!” Suara Bu Indri menjerit.

Dengan tergopoh-gopoh ku dekati kamar mandi, tanganku mencoba mendorong pintu kamar mandi, ternyata tak dikunci, ku beranikan diri saja membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya aku, nampak Bu Indridengankeadaan tubuhnya yang telanjang bulat terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua kaki mengangkang menampakkan memeknya yang di tumbuhi bulu agak lebat dengan bibir memeknya sedikit tebuka, sedangkan sepasang buah dadanya dengan puting yang merah kecoklatan yang besar tampak menggantung berguncang-guncang.

“Kenapa bu, apa yang terjadi.. bu?” Tanyaku khawatir.

“Ibu jatuh, kepeleset dik, lantainya kamar mandinya licin, aduhhhh.. pantat ibu sakit.” Kata Bu Indri dengan suara menahan sakit.
Tanpa berkata-kata lagi segera ku raih dan ku bopong tubuh Bu Indri lalu memapahnya keluar dari kamar mandi dalam keadaan tubuhnya masih telanjang bulat, sambil tertatih-tatih ku papah Bu Fat ke sofa lalu ku baringkan.

“Oh, yah ibu mau saya ambilkan baju ibu di kamar mandi?” Tanyaku.

“Nggak usahlah dik, lagian bukannya tubuh ibu sudah nggak ada lagi yang belum dilihat sama dik Lan kan?” Jawab Bu Indri.
Aku diam aja.

“Dik Lan… tolong dong urutin ini.” Pinta Bu Indri sambil menunjuk bagian belakang tubuhnya.

Aku mengganguk saja, Bu INdri kemudian membaringkan badannya di atas sofa sedangkan aku duduk di sampingnya sambil memijitkan tanganku ke tubuh Bu Indri. Pantat Bu Indri yang besar montok membuatku sangat bernafsu untuk meremas-remasnya, namun aku coba menahan diri kupikir belum waktunya.

”Bawahan sedikit dik Lan, dekat pinggang, nah itu!”

Aku turutkan saja permintaan Bu Indri. Seperti saat Bu Indri memintaku mengurut bagian pinggangnya. Kulit Bu Indri terasa Lembut meski sudah tidak kencang lagi.

Semakin lama nafsuku semakin tinggi hingga aku menjadi sedikit liar dan nekad. Pijatanku kini sudah semakin ngaco dan hanya ku arahkan ke bagian-bagian tubuh Bu Indri yang menurutku menarik secara seksual. Pantat Bu Indri ku remas-remas sambil sesekali jariku sengaja ku sentuhkan ke memeknya. Kontolku semakin keras dan tegang saja. Hingga akhirnya aku tak kuat lagi menahan nafsu, kuciumi saja pantat Bi Indri dan ku panjangkan lidahku mencoba menjangkau memek Bu Lizah.

“Eh.., dik Lan, koq malah ke situ?” Tanya Bu Indri dengan suara perlahan.

Tak ku indahkan lagi pertanyaan Bu Indri, nafsuku sudah sangat tinggi, dengan liar ku jilati memek Bu Indri, ku kuakkan kaki Bu Indri hingga memek Bu Indri yang berjembut agak tebal itu tampak lebih lebih jelas lagi. Aku terus menurunkan lagi lidahku menikmati bahagian bawah memek Bu Indri yang ternyata sudah basah oleh lendir, saat lidahku menyapu sekitar bibir Bu Indri, Bu Indri terdengar mengeluh.

“..Mmmmmmmm.., sshh.., jilat yang dalam dik Lan..” Desah Bu Indri.

Aku pun menjilati memek Bu Indri dan sesekali mengigit kecil bibir memek serta itil Bu Indri.

Sambil menjilat, jari tangan ku ku masukan dan ku putar-putar di dalam lubang memek Bu Indri.

“..mmm.., aahh.., ayo masukin yang dalam jarinya, dik lan, nah ..sshh, aahhh.., putar-dik, ahhh..,” Racau Bu Indri semakin ghairah.
Nafsuku semakin tak terbendung lagi, kuminta Bu Indri untuk terlentang. Bu Indri lalu bangun dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu kakinya mengangkang, muka ku langsung ku hujamkan ke memek Bu Indri. Bu Indri memegang erat kepala aku sambil meramas ramas rambutku.

“..sssshh.., mmhh.., aahhhh..,” Badan Bu INdri sampai terhempas-hempas menikmati jilatan lidahku pada memek dan itilnya, sesekali ku gigit pelan sampai Bu Indri melenguh agak keras..

“Awwwww.., uiiih…, seperti itu.., yaaaa…, aahh.., ayo lagi dik Lan.” Lenguh Bu Indri lagi.

Sambil ku nikmati memeknya, tangan ku meremas-remas tetek Bu Indri yang menggantung bergantian, dan Bu Indri membongkokkan badannya untuk meraih kontolku, aku terus saja menjilat dan menghisap memek Bu Indri sampai aku rasakan seluruh badan Bu Indri bergeletar.

“Jilat dik Lan, Jilat semuanya,..ssshhh.., mmmmmmm.., yah..,”

Bu Indri mengangkat kepalaku sambil tersenyum dia berkata..,

“Ayo dik Lan, biar ibu udah tua tapi memek ibu masih legit koq..,” Kata Bu Indri sambil memegang dan menepuk-nepuk memeknya.

Aku senyum, tanganku ku usap-usapkan ke permukaan memek Bu Indri, jembutnya ku tarik pelan-pelan.

“Sekarang gantian, ibu pengen ngelihat punya dik Lan.” Pinta Bu Indri.

Aku bangun dan berdiri didepan Bu Indri, ku lepas celanaku, dan tersembulah kontolku yang sudah mengacung keras itu. Melihat itu Bu Indri tersenyum.

“Ini kalau ibu jilatin sebentar juga pasti keluar” Kata Bu Indri tersenyum.

Aku tak menanggapinya, Bu Indri lalu mendekatkan wajahnya ke kontolku dan mulutnya meraih kontolku, setelah terlebih dahulu lidahnya menjilati. Kontolku terasa hangat ketika Bu Indri memasukannya ke dalam mulutnya.

Kontolku lalu dihisap-hisapnya dengan gerak maju mundur.

“mmmmph….. mmmmmppphh” Bunyi mulut Bu Indri ketika menghisap kontolku yang bercampur air liurnya. Bu Indri juga kemudian mengulum pula buah zakar ku.

Sesekali Bu Indri memasukkan seluruh batang kontolku kedalam mulutnya dan pada bagian inilah yang aku sangat tak tahan.

“..mmmhhhh…, oohh.., Bu Indri terus bu” Aku mengeluh enak sambil ku pegang erat kepala Bu Indri, waktu kurasakan air maniku tak dapaat ku tahankan lagi.

”..aahh.., bu saya keluar bu” Erangku.

Air maniku pun muncrat di dalam mulut Bu Indri yang terus saja menghisapi kontolku sambil memainkan lidahnya mengulas-ulas kepala kontolku.

Bu Indri tetap memegangi kontolku yang mulai mengecil. Aku terus duduk di sebelah Bu Indri.
“Wah nggak nyangka ibu pinter banget ngisep..,” Kata ku memuji.

“Iya dong dik Lan, soalnya lelaki itu sebenarnya banyak yang lebih suka itunya di hisap dan dijilati, perempuan juga sama banyak yang lebih suka barangnya dijilati saja.

Sebab tidak menguras tenaga. Pastinya, kalau lelaki pandai membuat perempuan itu puas secara begini, perempuan akan dapat melayani kembali lelaki itu dengan sempurna.” Bu Indri menerangkan.

”Ibu memang sangat suka ngewe, tapi kalau ngewe tapi akhirnya tak puas buat apa? Mending usaha sendiri aja sampai puas.” Kata dia lagi sambil meremas-remas kontolku yang perlahan mulai mengeras.

”Hah .. Macam dik Lan ni,, batang dahlah boleh tahan.. besar.. panjangnya cukup.. dan air pulak banyak.. puaslah perempuan tu.. tapi kalau dik lan tak reti.. susahlah nanti. Syok Sendiri.” kata dia lagi. Aku pun dah mula nak meara main cipap Kak Zi pula.

“Dik lan, memek ibu memang sudah agak longgar sedikit, maklum aja ibu kan sudah tua, makanya dik Lan harus menusukkan kontolnya keras.” Kata Bu Indri.

”Tenang saja bu soal tusuk menusuk sih rasanya saya sanggup.” Kataku sambil tersenyum.
Bu Indri lantas menyandar kembali di atas sofa dan mengangkangkan kakinya, memeknya terlihat sudah basah.

”Ayo Dik Lan masukin kontolmu cepat.” Pinta Bu Indri.

Aku pun tanpa menunggu lagi segera saja memasukkan kontolku kedalam memek Bu Indri, ku hentak dengan sekuat hati.

“Aww.., aduuhh., ayo hentak lagi dik Lan, puaskan ibu…” Bu Indri mengerang.

”Dik Lan coba goyangin sedikit kontolnya deh, biar memek ibu semua ngerasain.” Kata Bu Indri.

Ku ikuti permintaannya, sambil mendorong kuputar kontolku bahkan seperti hendak menyungkit isi memek Bu Indri keluar.

Gerakan ku menusuk-nusukan ****** kulakukan dengan simultan, aku juga meremas-ramas tetek Bu Indri sambil tetap ku hetakan kontoku kedalamnya.

Ku rasakan Bu Indri mengemut-ngemutkan memeknya hingga kontolku serasa di remas-remas nikmat. Aku dan Bu Indri kemudian berganti posisi, Bu Indri memutar badannya supaya aku menusuknya dari belakang.

“..aahh, ..oohhh, ..aaahh, …oohhh, …mmmhhh. ..” Bu Indri mengeluh keenakan.
Hingga beberapa saat kemudian,

“Aaaahh.., sshh…..” Bu Indri mendesah-desah disertai gerakan tubuhnya yang semakin liar sepertinya Bu Indri klimaks.

Aku segera mencabut kontolku dari lobang memek Bu INdri yang ternyata di fahami oleh Bu Indri dengan memutar badannya dan disongsongnya kontolku dengan mulutnya. Dan dihisap-hisapnya kontolku lagi, hingga akhirnya kurasakan cairan kenikmatan menjalari kontolku, kenikmatan itu bertambah dengan hisapan yang di lakukan Bu Indri memberi sensasi seks yang berbeda yang tentunya lebih dahsyat karena spermaku seakan-akan disedot keluar oleh mulut Bu Indri. Tubuhku mengejang sedangkan tanganku sibuk mempermainkan sepasang tetek Bu Indri, merasakan kenikmatan itu sampai tetes terahir.

Setelah aku dan Bu Indri
sama-sama terdiam beberapa saat, Bu INDri lalu beringsut kemudian berjalan ke kamar mandi. Ku dengar air mencebok, sepertinya Bu Indri sedang membersihkan memeknya. Bu Indri keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai celana dalamnya tanpa BH karena Bhnya dan juga pakaiannya di bawa di tangannya sehingga tetek Bu Indri tampak berayun-ayun mengikuti gerak jalan Bu Indri. Ketika ku perhatikan teteknya Bu Indri tampak tanda merah cupang yang secara nggak sadar ku buat ketika ngewe dengan Bu Indri tadi.

Bu Indri tersenyum kecil saja ketika melihat ku, dipakainya kembali pakaiannya. Dia kemudian mengenakan kerudungnya dan kembali ke sofa.

Aku yang masih bertelanjang bulat santai saja tiduran di sofa. Bu INdri lalu duduk di sampingku, dipegangnya kontolku yang sudah layu itu dan di remas-remasnya hingga keras dan tegang lagi.

“Wah, dik Lan mau lagi ya?, ininya keras lagi nih.” Goda Bu Indri sambil tersenyum.

Aku Tak menjawabnya hanya tersenyum sambil mengedipkan mata. Bu Indri mengangsurkan mukanya mendekati kontolku dan mulutnya menggapai kontolku untuk kemudian dihisapnya lagi.

”Dik Lan kita main sekali lagi yah..,” Ajak Bu INdri kepadaku.

Langsung ku anggungkan kepalaku, karena memang itu yang aku maui apa lagi setelah kontolku di sepongnya tadi nafsuku bangkit lagi.

Aku dan Bu Indri akhirnya ngewe lagi kali ni Bu Indri masih memakai kerudungnya membuatku semakin bernafsu mengewenya.

Akhirnya setelah merapikan lagi pakaian dan kerudung yang di pakainya, Bu Indri pamit, dia bilang mau pergi mengajar lagi satu di rumah. Aku mengenakan celanaku dan kubukakan pintu untuk Bu Indri, dia tersenyum melirikku sambil memakai sepatunya.

”Istirahat dulu ya dik, biar lebih segar makan telur setengah matang 2 butir dan minum air dicampur madu.” Pesan Bu Indri sambil berbisik.

“Kalau dik Lan kepengen lagi, kasih tahu ibu yah, atau talepon dulu” Lanjut Bu Indri.

”Baik bu..,” Jawabku sambil meremas dada Bu Indri yang kenyal..

Hubungan ku dengan Bu Indri terus berlangsung hingga kini, kapan pun aku mau ngewe dengan Bu Indri aku tinggal meneleponnya, dan Bu Indri tak pernah menolaknya, karena biar pun Bu Indri sudah tua ternyata nafsu seksnya masih tetap tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here