Cerita Mesum – Nikmat dan Puas Dengan Anak Majikan

0
218

Cerita Mesum – Nikmat dan Puas Dengan Anak Majikan

Nikmat dan Puas
Cerita Mesum – Nikmat dan Puas Dengan Anak Majikan

Cerita Mesum – Nikmat dan Puas Dengan Anak Majikan – Pertama aku kerja dan berangkat ke kota Jember tepatnya di perumahan area kampus. Aku terkagum-kagum dengan rumah juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya terhitung luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Beni, Ia Jajaran direksi Bank ternama di kota Jember, Ia mempunya dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Kristin, usianya kira-kira 18 tahun.

Sedangkan istrinya membuka bisnis sebuah toko busana yang terhitung terbilang sukses di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Beni namanya Bik Miatun usianya kira-kira 27 tahunTeman Kristin banyak sekali setiap malam minggu selalu berkunjung kerumah kadang pulang sampai larut malam, sampai aku tak dapat tidur dikarenakan kudu nunggu rekan Non Kristin pulang untuk mengunci gerbang, kadang terhitung bergadang sampai pukul 04.00. Mungkin kacapekan atau sebenarnya ngantuk usai bergadang malam minggu, yang mengetahui pagi itu kamar Non Kristin masih terkunci berasal dari dalam. Aku nggak pikirkan dikarenakan bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Kristin, aku hanya ditugasi jaga rumah ketika Pak Beni dan Istrinya Pergi kerja dan merawat tamannya saja.

Pagi itu Pak Beni dan Istrinya pamitan sudi muncul kota, katanya baru pulang minggu malam sehingga dirumah itu tinggal aku, Bik Miatun dan Non Kristin. Jam sudah membuktikan pukul 08.00 tetapi Non Kristin masih belum bangun terhitung dan Bik Miatun sudah selesai memasak.
“Jono, aku sudi membeli tolong pintu gerbang dikunci.”
“Iya Bik!” jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Miatun pergi aku mengunci pintu gerbang.

Setelah selesai menyiram taman yang sebenarnya cukup luas aku punya niat mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada nada air berkecipung kulihat kamar Non Kristin sedikit terbuka berarti yang mandi Non Kristin. Tiba-tiba timbul kemauan untuk mengintip. Aku mencoba mengintip berasal dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Kristin mulus dan susunya amat kenyal, kuamati terus kala Non Kristin menyiramkan air ke tubuhnya, dengan perasaan berdegap aku masih belum beranjak berasal dari tempatku semula. Baru pertama ini aku menyaksikan tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku terhitung memegangi penisku yang sebenarnya sudah tegang, kulihat Non Kristin mencuci sabun keseluruh badannya aku nggak melewatkan begitu saja sambil tanganku terus memegangi penis. Aku cepat-cepat pergi, dikarenakan Non Kristin sudah selesai mandinya tetapi dikarenakan gugup aku segera masuk ke kamar WC yang sebenarnya berada berdampingan dengan kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi penisku yang berasal dari tadi masih tegang.

Cukup lama aku di di dalam kamar WC sambil terus mengayalkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak mengetahui kalau Bik Miatun berada didepanku. Aku baru mengetahui kala Bik Miatun menegurku,
“Ayo.. ngapain kamu.”
Aku terperanjat cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.
“Ng.. nggak Bik..” kataku sambil cepat-cepat keluat berasal dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.

Esoknya usai aku menyiram taman, aku punya niat ke belakang untuk mematikan kran, tetapi dikarenakan ada Bik Miatun mencuci kuurungkan kemauan itu.
“Kenapa kok kembali?” bertanya Bik Miatun.
“Ah.. enggak Bik..” jawabku sambil terus ngeloyor pergi.
“Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan sudah selesai, bantu aku menyiramkan air ke busana yang akan dibilas,” pinta Bik Miatun.
Akhirnya akupun menuruti permintaan Bik Miatun. Entah sengaja memancing atau sebenarnya kebiasaan Bik Miatun setiap mencuci busana selalu tingkatkan jaritnya diatas lutut, menyaksikan panorama seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat
“Begitu putihnya paha Bik Miatun ini” pikirku, lalu bayanganku mulai nakal dan berimajinasi untuk dapat mengelus-ngelus paha putih Bik Miatun.
“Heh! kenapa menyaksikan begitu!” pertanyaan Bik Miatun membuyarkan lamunanku
“Eh.. ngg.. nggak Bik” jawabku dengan gugup.
“Sebentar Bik, aku sudi membuang air besar” kataku, lalu aku segera masuk kedalam WC, tetapi kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.

Didalam WC aku hanya dapat mengayalkan paha mulus Bik Miatun sambil memegangi penisku yang sebenarnya sudah menegang hanya kala itu aku nggak merasakan apa-apa, hanya penis ini tegang saja. Akhirnya aku muncul dan kulihat Bik Miatun masih asik dengan cucianya.
“Ngapain kamu tadi di dalam Jon?” bertanya Bik Miatun.
“Ah.. nggak Bik hanya membuang air besar saja kok,” jawabku sambil menyiramkan air terhadap cuciannya Bik Miatun.
“Ah yang bener? Aku mengetahui kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu lakukan seperti kemarin ee..nggak taunya benar,” kata Bik Miatun
“Hah..? menjadi Bibik mengintip aku?” tanyaku sambil menunduk malu.

Tanpa banyak berbicara aku segera pergi.
“Lho.. kok pergi?, sini Jon belum selesai nyucinya, tenang saja Jon aku nggak akan cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu sama Bibik ” panggil Bik Biatun.
Kuurungkan niatku untuk pergi.
“Ngomong-ngomong gimana rasanya kala kamu lakukan seperti tadi Jon?” bertanya Bik Miatun.
“Ah nggak Bik,”jawabku sambil malu-malu.
“Nggak gimana?” bertanya Bik Miatun seolah-olah sudi menyelidiki aku.
“Nggak usah diteruskan Bik aku malu.”
“Malu sama siapa? Lha wong disini hanya kamu sama aku kok, Non Kristin terhitung sekolah, Pak Beny kerja?” kata Bik Miatun.
“Iya malu sama Bibik, dikarenakan Bibik sudah mengetahui milikku,” jawabku.
“Oalaah gitu aja kok malu, sebelum saat mengetahui milikmu aku sudah pernah mengetahui di awalnya milik mantan suamiku dulu, enak ya?”
“Apanya Bik?” tanyaku
“Iya rasanya to..?” gurau Bik Miatun tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.
“Sini kamu..” kata Bik Miatun sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Miatun memegang penisku.
“Jangan Bik..!!” sergahku sambil mengupayakan meronta, tetapi dikarenakan pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.

Akhirnya aku hanya diam saja ketika Bik Miatun memegangi penisku yang masih di dalam celana pendekku. Pelan tetapi pasti aku mulai nikmati pegangan tangan Bik Miatun terhadap penisku. Aku hanya dapat diam sambil terus melek merem merasakan nikmatnya pegangan tangan Bik Miatun. lalu Bik Miatun mulai melewatkan kancing celanaku dan melorotkanya kebawah. Penisku sudah mulai tegang dan tanpa rasa jijik Bik Miatun Jongkok dihadapanku dan menjilati penisku.
“Ach.. Bik.. geli,” kataku sambil memegangi rambut Bik Miatun.

Bik Miatun nggak pikirkan dia terus saja mengulum penisku, Bik Miatun berdiri lalu membuka kancing bajunya sendiri tetapi tidak semuanya, kulihat panorama yang menyembul didepanku yang masih terbungkus kain kutang dengan ragu-ragu kupegangi. Tanpa mulai malu, Bik Miatun membuka tali kutangnya dan melewatkan aku terus memegangi susu Bik Miatun, dia mendesah sambil tangannya terus memegangi penisku. Tanpa malu-malu kuemut pentil Bik Miatun.

“Ach.. Jon.. terus Jon..”
Aku masih terus lakukan perintah Bik Miatun, setelah itu Bik Miatun ulang memasukkan penisku kedalam mulutnya. aku hanya dapat mendesah sambil memegangi rambut Bik Miatun.
“Bik aku seperti sudi pipis,” lalu Bik Miatun segera melewatkan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang basah, kulihat Bik Miatun nggak memakai celana dalam.
“Sini Jon..,” Bik Miatun mengambil alih posis duduk, lalu aku mendekat.
“Sini.. masukkan penismu kesini.” sambil tangannya menunjuk anggota selakangannya.

Dibimbingnya penisku untuk masuk ke di dalam vagina Bik Miatun.
“Terus Jon tarik, dan masukkan ulang ya..”
“Iya Bik” kuturuti permintaan Bik Miatun, lalu aku merasakan seperti pipis, tetapi rasanya nikmat sekali.
Setelah itu aku menyandarkan tubuhku terhadap tembok.
“Jon.. gimana, mengetahui kan rasanya sekarang?” bertanya Bik Miatun sambil membetulkan tali kancingnya.
“Iya Bik..”jawabku.

Esoknya setiap isi rumah mobilisasi aktivitasnya, aku selalu lakukan adegan ini dengan Bik Miatun. Saat itu hari Sabtu, kita nggak nyangka kalau Non Kristin pulang pagi. Saat kita tengah asyik lakukan kuda-kudaan dengan Bik Miatun, Non Kristin memergoki kami.
” Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan terhadap ayah dan mama, kalian!”
Melihat Non Kristin kita gugup bingung, “Jangan Non.. ampuni kita Non,” rengek Bik Miatun.
“Jangan laporkan kita terhadap tuan, Non.”
Akupun terhitung risau kalau sampai dipecat, selanjutnya kita menangis di depan Non Kristin, kemungkinan Non Kristin iba terhitung menyaksikan rengekan kita berdua.
“Iya sudah jangan diulangi ulang Bik!!” bentak Non Kristin.
“Iy.. iya Non,” jawab kita berdua.

Esoknya seperti biasa Non Kristin selalu bangun siang kalau hari minggu, kala itu Bik Miatun terhitung tengah membeli tengah Pak Beny dan Istrinya ke Gereja, kala aku meyirami taman, berasal dari belakang kudengar Non Kristin memanggilku,
“Joon!! Cepat sini!!” teriaknya.
“Iya Non,” akupun bergegas kebelakang tetapi aku tidak menemukan Non Kristin.
“Non.. Non Kristin,” panggilku sambil mencari Non Kristin.
“Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa,” teriak Non Kristin yang ternyata berada di di dalam kamar mandi.
“Iya Non.”
Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, setelah kuambilkan handuknya “Ini Non handuknya,” kataku sambil tunggu diluar.
“Mana cepat..”
“Iya Non, tapi..”
“Tapi apa!! Pintunya dikunci..”

Aku bingung gimana langkah beri tambahan handuk ini terhadap Non Kristin yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terperanjat hampir tidak yakin Non Kristin telanjang bulat didepanku.
“Mana handuknya,” pinta Non Kristin.
“I.. ini Non,” kuberikan handuk itu terhadap Non Kristin.
“Kamu sudah mandi?” bertanya Non Kristin sambil mengambil alih handuk yang kuberikan.
“Be..belum Non.”
“Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng sama aku,” kata Non Kristin.

Belum sempat aku terperanjat akan ucapan Non Kristin, tiba-tiba aku sudah berada di dalam satu kamar mandi dengan Non Kristin, aku hanya bengong ketika Non Kristin melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru mengetahui ketika Non Kristin memegang milikku yang berharga.
“Non..,” sergahku.
“Sudah ikuti saja perintahku, kalau tidak sudi kulaporkan perbuatanmu dengan Bik Miatun terhadap papa,” ancamnya.

Aku nggak dapat berbuat banyak, sebagai lelaki normal pasti kelakuan Non Kristin mengakibatkan birahiku, sambil tangan Non Kristin bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya dengan ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Kristin yang singsat dan padat. Non Kristin mendesah, “Augh..”
Kuciumi, lalu aku tertuju terhadap selakangan Non Kristin, kulihat bukit kecil diantara paha Non Kristin yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku cobalah untuk memegangnya. Non Kristin diam saja, lalu aku arahkan bibirku diantara selakangan Non Kristin.
“Sebentar Jon..,” kata Non Kristin, lalu Non Kristin mengambil alih posisi duduk dilantai kamar mandi yang sebenarnya cukup luas dengan kaki dilebarkan, ternyata Non Kristin berikan kelaluasaan padaku untuk terus menciumi vaginanya.

Melihat peluang itu tak kusia-siakan, aku segera melumat vaginanya kumainkan lidahku didalm vaginanya.
“Augh.. Jon.. Jon,” erangan Non Kristin, aku merasakan ada cairan yang mengalir berasal dari di dalam vagina Non Kristin. Melihat erangan Non Kristin kulepaskan ciuman bibirku terhadap vagina Non Kristin, seperti yang diajarkan Bik Miatun kumasukkan jemari tanganku terhadap vagina Non Kristin. Non Kristin tambah mendesah, “Ugh Jon.. terus Jon..,” desah Non kristin. Lalu kuarahkan penisku terhadap vagina Non Kristin.
Bless.. bless.. Batangku dengan gampang masuk kedalam vagina Non Kristin, ternyata Non Kristin sudah nggak perawan, kata Bik Miatun seorang dikatakan perawan kalau pertama kali lakukan hubungan intim dengan lelaki berasal dari vaginanya mengeluarkan darah, tengah kala kumasukkan penisku ke di dalam vagina Non Kristin tidak kutemukan darah.

Kutarik, kumasukkan ulang penisku seperti yang pernah kulakukan terhadap Bik Miatun sebelumnya. “Non.. aku.. sudi muncul Non.”
“Keluarkan saja di dalam Jon..”
“Aggh.. Non.”
“Jon.. terus Jon..”
Saat aku sudah mulai sudi keluar, kubenamkan seluruh batang penisku kedalam vagina Non Kristin, lalu gerkkanku tambah cepat dan cepat.
“Ough.. terus.. Jon..”

Kulihat Non Kristin nikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke penisku kala itu terhitung aku terhitung merasakan ada yang muncul berasal dari penisku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kita bersatu, lalu Non Kristin menciumku.
“Terima kasih Jon kamu hebat,” bisik Non Kristin.

“Tapi aku risau Non,” kataku.
“Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak akan bilang sama papa” kata Non Kristin. Lalu kita mandi bersama-sama dengan tawa dan gurauan kepuasan.

Sejak kala itu setiap hari aku kudu melayani dua wanita, kalau di rumah hanya ada aku dan Bik Miatun, maka aku melakukannya dengan Bik Miatun. Sedang setiap Minggu aku kudu melayani Non Kristin, lebih-lebih kalau malam hari seluruh sudah tidur, tak jarang Non Kristin mencariku di luar rumah area aku jaga dan di situ kita melakukannya.

 

wsd4d.com

Togel Online | Dominoqq Togel HK | Bandarq | Togel SGP | Sabung Ayam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here