Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

0
783

Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Cerita Mesum - Mertuaku memang pejantan tangguh
Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Cerita MesumMertuaku memang pejantan tangguh – Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru membawa seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia cuma lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan terlalu bahagia. Memang kami berdua kawin dalam usia agak terlambat telah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari berasal dari melahirkan, suamiku tetap cemas untuk berhubungan seks. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Mungkin dia tetap teringat pada selagi aku menjerit-jerit pada selagi melahirkan, sebenarnya dia juga ikut masuk ke area persalinan mendampingi aku selagi melahirkan. Di samping itu aku sebenarnya juga repot benar bersama si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku kudu menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku makin repot saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di anggota Teknologi, menjadi pulangnya sering terlambat.  Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Keadaan ini terjadi berasal dari hari ke hari, sampai suatu selagi terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, terutama kehidupan pribadiku sendiri. Ketika itu kami mendapat kabar bahwa bapak mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke area kami. Memang selama ini ke dua mertuaku tinggal di Amerika bersama bersama anak perempuan mereka yang menikah bersama orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk merampungkan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak dapat ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai selagi kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya. Suamiku langsung berteriak gembira saat mendapatkan sosok seorang pria yang sedang duduk sendiri di area tunggu.Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan bersama suamiku. Saling melewatkan rindu. Aku mencermati mereka. Ayah mertuaku tetap keluar muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, bersama kulit gelap tetap tegap dan berotot. Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Beliau berasal berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum akan pensiun bapak mertua adalah seorang perwira angkatan darat.Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

“Hei nak Novi. Apa khabar…!”, sapa bapak mertua padaku saat selesai berpelukan bersama suamiku. “Ayah, apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?” balasku. “Oh…Ibu baik-baik saja. Beliau nggak dapat ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo….” “Ayo kami ke rumah”, kata suamiku kemudian. Sejak ada bapak di rumah, ada perubahan yang memadai berarti dalam kehidupan kami. Sekarang keadaan di tempat tinggal lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya sebenarnya pintar membawa diri, pintar mengambil alih hati orang. Dengan ada bapak mertua, suamiku menjadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Akan tapi pada hari-hari tertentu, selamanya saja pekerjaan kantornya mengambil alih waktunya sampai malam, supaya dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini umumnya pada hari-hari Senin tiap tiap minggu. Sampai terjadilah momen ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan bapak mertua berasal dari Amerika. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan sesudah melahirkan, aku mulai giat kembali bersenam kembali, karena sebenarnya sebelum akan hamil aku juga salah seorang yang terlalu giat melaksanakan senam dan itu umumnya kulakukan pada sore hari. Setelah mulai memadai kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku dapat cepat kembali ke wujud mula-mula yang langsing, karena sebenarnya postur tubuhku juga tinggi kurus akan tapi padat. Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. Mungkin karena badan mulai lelah dan pegal sesudah senam, aku menjadi mengantuk dan sesudah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box area tidurnya. Kemudian aku berbaring di area tidur. Saking telah terlalu mengantuk, tanpa mulai aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa lelah dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang… Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Rasa nyaman sedikit demi sedikit beralih menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian sensitif di tubuhku. Tanpa mengetahui aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena sebenarnya telah memadai lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti telah hampir 3 bulan lamanya, maka mulai suamiku terlalu agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif berasal dari sudut tubuhku. Tiba-tiba aku mengetahui berasal dari tidurku… tapi kayaknya mimpiku tetap konsisten berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin mulai nyata. Kemudian aku mengira ini tingkah laku suamiku yang telah kembali berasal dari kantor. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Ketika aku terhubung mataku, keluar sinar terang tetap memancar masuk berasal dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari tetap sore. Lagian ini kan hari Senin, harusnya dia baru pulang agak malam, menjadi siapa ini yang sedang mencumbuku… Aku langsung terbangun dan terhubung mataku lebar-lebar. Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu memandang orang yang sedang menggeluti tubuhku. Ternyata… dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, konsisten saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku. Sementara dasterku telah terangkat tinggi-tinggi sampai menunjukkan semua pahaku yang putih mulus. “Yah…!! Stop….jangan…. Yaaahhhh…!!?” jeritku bersama nada tertahan karena cemas terdengar oleh Si Inah pembantuku. “Nov, maafkan Bapak…. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang….!!” Ia tambah bicara seperti itu, bukannya malu didamprat olehku. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

“Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, aku mohon….!!”, pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku. Aku coba menggeliat bangun dan buru-buru turunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk sama di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku makin ketakutan. “Nov… Kamu nggak kasihan memandang Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan telah lama merindukan untuk dapat nikmati badan Novi yang langsing padat ini….!!!!”, desaknya. “Jangan bicara begitu. Ingat Yah… aku kan menantumu…. istri Toni anakmu?”, jawabku coba menyadarinya. “Jangan menyebut-nyebut si Toni selagi ini, Bapak mengetahui Toni belum kembali menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan… Benar-benar keterlaluan tu anak….!!, lanjutnya. Rupanya entah bersama cara bagaimana dia dapat memancing hubungan kami suami istri berasal dari Toni. Ooooh…. terlalu bodoh si Toni, batinku, nggak mengetahui tingkah laku Bapaknya. Mertuaku sambil konsisten mendesakku bicara bahwa ia telah berhubungan bersama banyak wanita lain tidak cuman ibu mertua dan dia tak pernah memperoleh wanita yang membawa tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak yakin mendengar omongannya. Ia cuma coba merayuku bersama rayuan murahan dan beranggap aku akan mulai tersanjung. Aku coba menghindar… tapi telah tidak ada kembali area gerak bagiku di sudut area tidur. Ketika kutatap wajahnya, aku memandang mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk turunkan kemauan birahi mertuaku yang tampak telah menggebu-gebu. Melihat caranya, aku mengetahui mertuaku akan berbuat apa pun supaya maksudnya kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, supaya nafsunya dapat tersalurkan tanpa kudu memperkosa aku.Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Akhirnya bersama hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya. “Yahh… biar Novi mengocok Ayah saja ya… karena Novi nggak sudi bapak menyetubuhi Novi… Gimana…?” Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya tampak sedikit kecewa tapi bercampur sedikit lega karena aku tetap sudi bernegosiasi. “Baiklah..”, kata mertuaku seakan tidak punyai pilihan lain karena aku ngotot tak akan mengimbuhkan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir umumnya laki laki kalau telah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia telah tidak Mengenakan celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Aku terlalu kaget dan terkesima memandang batang kemaluan mertuaku itu…. Oooohhhh…… terlalu panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punyai Toni suamiku. Mana hitam lagi, bersama kepalanya yang mengkilap bulat besar terlalu tegang berdiri bersama gagah perkasa, padahal usianya telah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang ****** orang tidak cuman punya suamiku, mana terlalu besar kembali supaya hampir tak dapat muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar berasal dari mulutnya seraya menyebut namaku. “Ooooohhh…..sssshhhh…..Nov iii…eee..eeena aak. .. betulll..!!!” Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak muka mertuaku meringis menghindar remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang telah licin oleh cairan yang meleleh berasal dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Aku mengetahui dia telah terlalu bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Sebentar kembali pasti akan langsung selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga… sampai lima menit berikutnya mertuaku tetap bertahan meski kocokanku telah makin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan supaya jangan berbuat macam-macam. “Nggak apa-apa …..biar cepet keluar..”, kata mertuaku memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia bersama lembut dan hati-hati mulai meremas-remas ke dua payudara di balik dasterku. Aku sebenarnya tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung mulai karena kain daster itu terlalu tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Apalagi tanganku tetap menggenggam batangnya bersama erat, setidaknya aku mulai tergoda oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku telah bertekad untuk menghindar diri dan melaksanakan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena pastinya sesudah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh kembali padaku. “Novi sayang.., membuka ya? Sedikit aja..”, pinta mertuaku kemudian. “Jangan Yah. Tadi kan telah janji nggak akan macam-macam..”, ujarku mengingatkan. “Sedikit aja. Ya?” desaknya kembali seraya menggeser tali daster berasal dari pundakku supaya anggota atas tubuhku terbuka. Aku menjadi gamang dan serba salah. Sementara anggota dada sampai ke pinggang telah telanjang. Nafas mertuaku makin memburu kencang melihatku setengah telanjang. “Oh.., Novii kamu terlalu cantik sekali….!!!”, pujinya sambil memilin-milin bersama hati-hati puting susuku, yang mulai basah bersama air susu. Aku terperangah. Situasi telah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku kudu bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin supaya ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku telah tidak mempedulikan tingkah laku mertuaku pada tubuhku.Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Aku biarkan tangannya bersama leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, apalagi saat kurasakan tangannya mulai mengelus-elus anggota kemaluanku pun aku tak mengupayakan mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk langsung merampungkan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya makin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan makin yakin bersama kemampuanku untuk membuatnya langsung selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum memandang gejala apa pun berasal dari mertuaku. Aku menjadi penasaran, sekaligus mulai tertantang. Suamiku pun yang telah miliki kebiasaan denganku, andaikan telah kukeluarkan kekuatan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa bersama mertuaku ini? Apa ia Mengenakan obat kuat? Saking penasarannya, aku menjadi kurang mencermati tingkah laku mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku telah terlepas berasal dari tubuhku. Aku baru mengetahui saat mertuaku mengupayakan menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas berasal dari ujung kakiku. Aku telah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong bersama keyakinanku. Kini seluruhnya telah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi makin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku bersama lihainya dan tanpa kusadari telah membalikkan tubuhku sampai berlawanan bersama posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya selagi kepalanya berada di bawahku. Kami telah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa mengetahui aku menjerit lirih. Suka tidak suka, sudi tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang telah tidak sudi ikuti perintah asumsi sehatku. Tubuhku meliuk-liuk ikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah idamkan membenamkan muka itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia sebenarnya pintar sebabkan birahiku memuncak. Kini aku telah lupa bersama trick semula. Aku telah terbawa arus. Aku tambah idamkan mengimbangi permainannya. Mulutku bermain bersama lincah. Batangnya kukempit bersama buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, tetap menyusui. Sementara ****** itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah terlepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu anggota signifikan tiap-tiap selama lima belas menit. Aku makin yakin kalau mertuaku Mengenakan obat kuat. Ia sama sekali belum menunjukkan gejala akan keluar, selagi aku telah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut mertuaku terlalu membuatku tak berdaya. Aku makin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, semua aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menghindar desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. “Oooohhhhh…….aaaa….aaaaa ……aaauugghhh hhhh hh..!!!!!” aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku. Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas selagi batang ****** mertuaku tetap berada dalam genggamanku dan tetap mengacung bersama gagahnya, apalagi mulai makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punyai pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku telah tidak membawa memadai tenaga kembali untuk menjaga kehormatanku, aku cuma tergolek lemah tak berdaya selagi mertuaku mulai menindih tubuhku. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

Dengan lembut ia mengusap wajahku dan bicara betapa cantiknya aku sekarang ini. “Noviii…..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!”, katanya sambil menciumi bibirku, coba terhubung bibirku bersama lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang ringan pecah. Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa makin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya pada tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung bersama buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat menunjukkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga selagi matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, bersama warna kultiku yang putih mulus. Kurasakan tangannya mengelus paha anggota dalam. Aku mendesis dan tanpa mengetahui terhubung ke dua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku memasang diri di antara ke dua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. Digesek-gesek, mulai berasal dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku mulai ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang tetap tersisa di sekitar itu sebabkan gesekannya makin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melaksanakan itu. Apalagi selagi moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang telah menegang. Mertuaku menatap tajam memandang reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk langsung memasuki diriku secepatnya. Ia mengetahui sama apa yang kurasakan selagi itu. Namun kelihatannya ia idamkan melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui sebenarnya aku telah tak tahan untuk langsung nikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku idamkan langsung membuatnya `KO’. Terus terang aku terlalu penasaran bersama keperkasaannya. Kuingin buktikan bahwa aku dapat membuatnya cepat-cepat menggapai puncak kenikmatan. “Yah..?” panggilku menghiba. “Apa sayang…”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa. “Cepetan..yaaahhhhh……. !!!” “Sabar sayang. Kamu idamkan Bapak berbuat apa…….?” tanyanya pura-pura tak mengerti. Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku selagi itu. Namun mertuaku sepertinya idamkan mendengarnya langsung berasal dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur bersama cuma menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku terlalu telah tak tahan kembali mengekang birahiku. “Novii….iiii… iiiingiiinnnn aaa…aaayahhhh….se….se.. seeegeeeraaaa ma… masukin..!!!”, kataku terbata-bata bersama terpaksa. Aku sebenarnya terlalu malu menyatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan mengimbuhkan tubuhku padanya, kini tambah meminta-minta. Perempuan macam apa aku ini!? “Apanya yang dimasukin…….!!”, tanyanya kembali seperti mengejek. “Aaaaaaggggkkkkkhhhhh…..ya.. .yaaaahhhh. Ja…..ja….Jaaangan siksa Noviiii..!!!” “Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang……!!” “Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh… Noviii idamkan dimasukin ****** bapak ke dalam memek Novi…… uugghhhh..!!!” Aku kali ini telah tak malu-malu kembali mengatakannya bersama vulgar saking tak tahannya menjamin gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku mulai seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak yakin mendengar ucapan itu keluar berasal dari bibirku sendiri. Tapi apa sudi dikata, sebenarnya aku terlalu menginginkannya segera. “Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya”, kata mertuaku bersama penuh kemenangan telah sukses menaklukan diriku. “Uugghh..”, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu memadai lama gerakan ****** mertuaku memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, ****** mertuaku terlalu panjang juga. Aku sampai menghindar nafas selagi batangnya mulai mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati. Aku baru bernafas lega saat semua batangnya amblas di dalam. Mertuaku mulai menjalankan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai terjadi lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku sebabkan ****** mertuaku keluar masuk bersama lancarnya. Aku mengimbangi bersama gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun ikuti irama tusukannya. Gerakan kami makin lama makin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku telah tidak beraturan karena yang perlu bagiku tusukan itu menggapai bagian-bagian sensitif di dalam relung kewanitaanku. Dia mengetahui sama apa yang kuinginkan. Ia dapat mengarahkan batangnya bersama pas ke sasaran. Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh semua isi liangku, tak ada sedikitpun area yang tersisa sampai gesekan batang itu terlalu mulai di semua dinding vaginaku. “Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!”, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari tingkah laku ini terlalu terlarang dan akan sebabkan persoalan besar nantinya. Tetapi selagi itu aku telah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak makin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. Aku meregang tak kuasa menghindar desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara mertuaku bersama gagahnya tetap mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku makin keras terdengar bersamaan bersama gelombang dahsyat yang makin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk bersama cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh mertuaku telah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat keluar mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku coba menggapai tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku sukses memeluknya bersama erat. Kurengkuh semua tubuhnya supaya menindih tubuhku bersama erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang tetap keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi selagi ke dua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang berasal dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk ke dua kalinya selagi itu. “Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee…eeennnaaaak kkkkkkk…!!!” Hanya itu yang dapat keluar berasal dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. “Sayang nikmatilah semua ini. Bapak idamkan kamu dapat merasakan kepuasan yang sebenarnya belum pernah kamu alami….”, bisik bapak bersama mesranya. “Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu…. Bapak idamkan melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..”, lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kalimat indah yang terdengar begitu romantis. Aku mendengarnya bersama perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya berasal dari laki laki yang bukan harusnya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan berasal dari anaknya yang menjadi suamiku…????. Tanpa mulai air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terperanjat memandang ini. Ia keluar begitu khawatir melihatku menangis. “Novi sayang, kenapa menangis?” bisiknya buru-buru. “Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..”, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku bersama penuh kasih sayang. Aku makin sedih merasakan ini. Tetapi ini bukan cuma salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak dapat menyalahkannya saja. Aku kudu jujur dan adil menyikapinya. “Bapak tidak salah. Novi yang salah..”, kataku kemudian. “Tidak sayang. Bapak yang salah…”, katanya besikeras. “Kita, Yah. Kita sama-sama salah”, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan persoalan ini lagi. “Terima kasih sayang”, kata mertuaku seraya menciumi muka dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku sukses menghidupkan kembali gairahku. Aku tetap penasaran dengannya. Sampai selagi ini mertuaku belum juga menggapai puncaknya. Aku seperti membawa pinjaman yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia memberikan kepadaku. Aku tak mengetahui kenapa diriku menjadi begitu antusias untuk melakukannya bersama sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia kudu pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang paling akhir kalinya. Timbulnya asumsi ini membuatku makin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku menjadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku sampai terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok bersama ke dua kaki berharap pada lutut dan tiap-tiap berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada sama di atas batangnya. “Akh sayang!” pekik mertuaku tertahan saat batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis semua batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang mengimbuhkan kepuasan kepada hidung belang. Tetapi aku tak perduli. Aku konsisten berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku sama seperti penyanyi dangdut bersama jenis ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah jenis apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan tertentu kupersembahkan kepada bapak mertuaku sendiri! “Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa…..!!!” jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram ke dua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, supaya air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat semua permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan pada akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak kembali merasakan dinginnya hawa meski kamarku memanfaatkan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, sebabkan tubuh kami menjadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya makin cepat bersamaan bersama liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami makin meningkat dahsyat. Sprei ranjangku telah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai menunjukkan tanda-tanda. Aku makin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan sebabkan iri para penyanyi dangdut selagi ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak idamkan terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku makin kuat. Aku konsisten memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku telah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku kudu menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih sama kuda betina binal yang sedang birahi. “Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouug ghhhhhh..!!!!” mertuaku berteriak panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Tubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat supaya jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami semua relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat kembali menghindar desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang selagi menggapai puncak kenikmatan bersama bersama bapak mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh berasal dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk supaya kami tidak sampai terkilir atau terluka. “Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tak tertahankan. Tulang-tulangku serasa lolos berasal dari persendiannya. Tubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan selagi lebih berasal dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku cuma dapat memeluknya nikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu berasal dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah…. Karena mendengar nada ribut-ribut berasal dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip…. tapi aku telah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan pada akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, meremehkan semua konsekuensi berasal dari momen di sore ini di kemudian hari. Cerita Mesum – Mertuaku memang pejantan tangguh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here