Cerita Mesum – Ibu Shinta Dosenku yang Seksi dan Nafsuin

0
233

Cerita Mesum – Ibu Shinta Dosenku yang Seksi dan Nafsuin

Cerita Mesum - Ibu Shinta Dosenku yang Seksi dan Nafsuin
Cerita Mesum – Ibu Shinta Dosenku yang Seksi dan Nafsuin

Cerita Mesum – Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu saya bersua bersama dosen bhs inggrisku, kita ngobrol bersama akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih fresh bugar dan sangat menggairahkan. Cerita Mesum

Penampilannya sangat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank supaya lekuk tubuhnya keluar begitu jelas. Jelas saja dia masih muda dikarenakan sewaktu saya SMA pernah dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, umumnya siswanya adalah wanita.

Cukup lama saya ngobrol bersama Ibu Shinta, kita rupanya tidak mengerti kala berjalan bersama cepat supaya para undangan perlu pulang. Lalu kita pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku studi kala SMA dulu. Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kita terpaksa ulang ke kelas. Cerita Mesum

Waktu itu kurang lebih hampir jam dua belas malam, tinggal kita berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun menyita tasnya lantas saya teringat dapat era lantas bagaimana rasanya di kelas bersama bersama teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

“Kenapa Jack” “Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya kondisi hening dan sangat merinding itu membuat hasratku bergejolak bahkan tersedia Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selamanya berdebar-debar). “Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Shinta. “Sebaiknya Ibu saya antar saja bersama mobil saya”, jawabku bersama ragu-ragu. Cerita Mesum

“Terima kasih Jack”. Tanpa sengaja saya mengungkapkan isikan hatiku kepada Ibu Shinta bahwa saya senang kepadanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Ternyata kondisi berbicara lain, Ibu Shinta terdiam saja dan segera keluar dari ruang kelas. Aku panik dan mengusahakan minta maaf.

Ibu Shinta ternyata telah cerai bersama suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun bersama pengakuan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lantas Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Cerita Mesum

Aku semakin penasaran lantas masuk dan punya niat mengajaknya pulang tetapi Ibu Shinta menolak. Aku mulai tidak enak lantas menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, bersama cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi tersedia kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan saya pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya saya ini, lantas bersama cepat saya menciumnya bersama segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak rela kalah, ia menciumku bersama keinginan yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Cerita Mesum

Dengan sengaja saya menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah supaya ciuman kita bertambah panas lantas berjalan pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku supaya saya sangat terangsang. Lalu saya menghendaki Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya bersama lembut, kutatap bersama penuh hasrat.

Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata sangat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya sangat seksi. Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta 1/2 telanjang, saya tidak rela segera menelanjanginya, supaya perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Cerita Mesum

Aku pun membuka baju supaya badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, “Jack kukira Ibu rela bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya pernah dong”, bisiknya bersama suara agak bergetar, barangkali menahan birahinya yang juga mulai naik Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat saya segera menutup pintu depan.

Tentu supaya kondisi aman dan terkendali. Setelah itu saya ulang ke Ibu Shinta. Kini saya jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan ke dua kakinya. Wuih, betapa mulus ke dua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang sangat minim. Cerita Mesum

Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku semakin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya. “Mau apa kau sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.

“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam. Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan bersama klitoris yang besar sesuai bersama dugaanku. Cerita Mesum

Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku lantas bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam bersama gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta semakin keenakan, sampai perlu mengangkat-angkat pinggulnya. “Aahh… Kau pandai sekali. Belajar dari mana hh…” Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku.

Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya sebagian saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia layaknya hendak tersendak. Cerita Mesum

Semula Ibu Shinta layaknya dapat memberontak dan membiarkan diri, tetapi tak kubiarkan. Mulutku layaknya menempel di mulutnya. “Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?”, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan ke dua payudaranya yang tampak menggairahkan itu.

Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus. “Nggak adil. Kamu juga perlu telanjang..” Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan paling akhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Cerita Mesum

Tanpa dikomando kita rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun ulang mulut dan lidahku menyerang tempat itu bersama liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kita nikmati permainan itu. Selanjutnya saya merangkak naik.

Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya. “Gantian dong..” Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia sanggup mengatur diri supaya tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. Cerita Mesum

“Justru di situ nikmatnya.., Selama ini mirip suami main seksnya gimana?”, tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku bersama penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan ke dua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah.

Aku tahu, perempuan itu telah kepengin disetubuhi. Namun saya sengaja membiarkan dia jadi penasaran sendiri. Tetapi lama-lama saya tidak tahan juga, batang kemaluanku pun telah dambakan segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan saya mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. Cerita Mesum

“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, saya segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku semakin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan dan juga ke dua payudaranya yang turut bergoyang-goyang.

Tiga menit sehabis kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan ke dua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia dapat orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. “Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya bersama tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia nikmati orgasmenya sebagian saat. Cerita Mesum

Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. “Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., saat ini kita main dong di atas meja ok!” Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertopang pada siku dan kakinya. “Gaya apa ulang ini?”, tanyanya. Setelah siap saya pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang.

Ibu Shinta ulang menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tidak ada taranya, yang barangkali selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kita istirahat. “Capek?”, tanyaku. “Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai rela remuk tulang-tulangku”. “Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil ulang meremas payudaranya yang menggemaskan. “Ya deh jikalau capek. Tapi tolong sekali lagi, saya pengin masuk supaya spermaku keluar. Cerita Mesum

Nih telah nggak tahan ulang batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas”, kataku sambil mengatur posisinya. Aku terletang dan dia tempati pinggangku. Tangannya kubimbing supaya memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan selaras genjotanku dari bawah.

Ibu Shinta tersentak-sentak ikuti irama goyanganku yang semakin lama kian cepat. Payudaranya yang turut bergoyang-goyang meningkatkan gairah nafsuku. Apalagi diiringi bersama lenguhan dan jeritannya kala menjelang orgasme. Ketika dia capai orgasme saya belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke jenis konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan saya menembaknya dari atas. Cerita Mesum

Mendekati klimaks saya meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. “Oh Ibu Shinta.., saya rela keluar nih ahh..” Tak lama lantas spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta lantas menyusul capai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku.

Lima menit lebih kita dalam posisi rileks layaknya itu. Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kita rasakan. Setelah itu kita bangun di pagi hari, kita pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta perlu pergi mengajar hari itu dan sorenya baru sanggup kujemput. Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput bersama mobilku. Cerita Mesum

Kita makan di mall dan kita pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kita beraksi kembali, saya mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas ke dua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta semakin terengah, dan tanganku pun masuk di pada ke dua pahanya. Celana dalamnya telah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.

“Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Shinta menggelinjang, tetapi gairahku telah sampai ke ubun-ubun dan saya pun membuka bersama paksa baju dan rok mininya. Aaahh..! Ibu Shinta bersama posisi yang menantang di jok belakang bersama memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus bersama BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Cerita Mesum

Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku semakin tidak sabar. Aku menarik terlepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berganti ke perutnya dan menjilatinya bersama perlahan.

“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di pada belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas ke dua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Cerita Mesum

Ketika saya berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa saya membuka seluruh pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. “Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”. Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

“Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku. Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir dikarenakan terangsang lihat batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama mulai sekali sesuatu di dalamnya dambakan meloncat ke luar. “Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku. Cerita Mesum

Dia mengerti jikalau saya rela keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menghimpit liang kenikmatannya, saya lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., “Creet.., suuurr.., ssuuur..” “Oughh.., Jack.., nikmat..”, erangnya tertahan dikarenakan mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan dikarenakan hisapannya sangat kuat selanjutnya saya juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya,

“Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya. “Aaahkk.., ooough”, ujarku puas. Aku masih belum mulai lemas dan masih sanggup lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku tersedia di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar kala lidah kita saling membelit. Cerita Mesum

Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar lantas kurasakan tangan Ibu Shinta menghimpit pantatku dari belakang. “Ohm, masuk.., augh.., masukin” Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku mulai tertahan oleh sesuatu yang kenyal.

Dengan satu hentakan, tembuslah kendala itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menghimpit lebih dalam ulang dan mulutnya mulai menceracau, “Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack” Aku merangkulkan ke dua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lantas membalikkan ke dua tubuh kita supaya Ibu Shinta saat ini duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap sampai pangkal di kemaluannya. Cerita Mesum

Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menjalankan pinggulnya, kala jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba capai puncak. Lewat sebagian waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta semakin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya bersama bibir kita saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan selanjutnya pinggulnya berhenti menyentak.

Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, saya mendorongnya sampai telentang, dan sambil menindihnya, saya mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika saya capai klimaks, Ibu Shinta pasti merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Cerita Mesum

Sekian lama kita diam terengah-engah, dan tubuh kita yang basah kuyup bersama keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme. Cerita Mesum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here