Cerita Mesum Besama Tante Girang

0
248

Cerita Mesum Besama Tante Girang

Cerita Mesum Besama Tante Girang
Cerita Mesum Besama Tante Girang

Warung Mesum Iklim nampaknya cendekiawan bersama mentari yg menyinar tapi kok membumi reda hujan cepat turun, seluruhnya orang cepat bagi bernaung yg waktu itu tambah menikmati sore, keramaian serta-merta sirna, gerimis maju dan hujan deras, didepanku ada seseorang awanita yg memanjatkan jemuran yg tidak sedikit kayaknya jarang mengantisipasi ganjaran baru bangun tidur. tambah menggunakan piyama.

“Ragil, bantuin bibi dong!”
tidak dengan berbicara saya membantunya. Sprei, kelambu, pakaian, t-shirt, dan …ih, baju dalam.
“Bawa ke mana, Tante?”
sekaligus� ke dalam aja!”
bibi Imas terjadi di depanku. Menaiki ondak sampai tegel dua. saya lumayan puas menikmati irama pinggulnya yg kukira agak dibuat-buat. waktu menghadap ke arah jelas, bayangan tubuhnya terang membayang. Seakan telanjang. ana masuk ke rumahnya. bibi Imas menggeletakkan jemuran di sisi kamarnya, akupun mengikutinya.
matur suwun� ya? anda ingin minum apa, Ka?” tanyanya yg serta-merta menyinggahkan maksudku kepada serentak pulang.

“Apa aja deh, bibi. bermula anget.”
Kurebahkan diri di sofanya. Hmm, cukup nyaman. bibi Imas belum memiliki anak. yg kutahu, suaminya, Om yg tidak kutahu namanya itu cuma sekali-kali pulang. Dengar-dengar pekerjaanya yang merupakan pelaut. Ha ha, pelaut. Di mana 5 memindahkan, di kamu meninggalkan jangkar. Sinis sekali aku.

“Om belum pulang, bibi? tanyaku basa-basi sambil terkena teh hangat.
“Belum, nggak tentu pulangnya. rata rata sih, hri pekan. Tapi hri pekan tempo hari nggak pulang juga.”
bibi� nggak kemana-mana?”
ingin� kemana, paling hanya di hunian saja. bila ada Ombaru pergi-pergi.”
“Eh, anda nggak ada kepentingan lain, kan?”
“Nggak, bibi, jawabku. ingin apa saya di hunian, sendirian, di kembali hujan yg makin lebat begini.
“Temenin bibi ya. Ngobrol.”

Kamipun tercemplung dalam percakapan yg wajar saja. Sekedar mau tahu kehidupan masing masing. asal ucapannya, kutahu bahwa suaminya bernama Om Iwan. eksentrik pulang. yg pass menghasilkan darahku berdesir agak serta-merta ialah daster itu.

Seakan saya dapat menyaksikan dua noktah di dadanya, yg timbul susut dikala beta bercengkrama. Tangan bibi Imas pass atraktif. Entah sengaja atau tak tidak jarang merisak tanganku, atau singgah di pahaku. semakin lama duduknya kembali makin dalam. Hingga…

“Ragil, ingin nonton sinema nggak? bibi miliki gambar hidup keren nih.”
Wah untunglah. Rumahku tak memiliki vcd player. bibi Imas mengaktifkan Televisi dulu membuahkan gambar hidup. Dan, astaga nyatanya dirinya pasti tak memanfaatkan BH dan lancingan dalam. saya dapat melihatnya terang sebab dirinya lumayan lama berdiri menyamping, binar Televisi menghasilkan gaun tidurnya jadi selaput transparan.
wujud susu beserta putingnya beserta rambut di asas paha. saya lebih ternganga pula dikarenakan gambar hidup itu XXX. pun bibi Imas sila di sampingku, melainkan lebih pada tengah. Tangannya merayau lenganku dgn lembut.

“Filmnya keren ya?” Bisiknya pelan.
Namun terdengar di telingaku sebagai umbak umbi. saya tidak bisa menjawab lantaran lisan bawahku menyangga ekstasi yg sah. Entah apa yg mesti kulakukan sekarang ini. Mataku tidak amnesti asal perempuan yg menangis di sinema itu, yg telah distel suaranya pelan.

bibi Imas menggenggam pergelangan tanganku. Dan, astaga. Dibawanya tanganku ke payudaranya. Didiktenya tangan ini ke negara yg tidak sempat diraRagiln pada awal mulanya. demikian sedang tangan kiriku. sekarang ini jalan berlawanan tapak tangan itu cekam sewajarnya jalan berlawanan pasangannya, payudara.
Pandanganku berulang ke arah Televisi. saya tidak jantan memperhatikan tampang bibi Imas. . tidak sempat saya impikan aspek ini berlangsung. Sementara di Televisi desahan si perawan yg menghadapi dua batang penis semakin menciptakan hot suasana.
“Ragil, hadap sini dong,” ujarnya manja.

Kuhadapkan wajahku. Kulihat pandangan pengharapan di sana. roman bibi Imas pass menawan, dgn kulit putih dan senyuman rupawan yg menghiasinya. saya sedang mencekam buah dada itu, cuma cekam bersama daster yg melapisinya.

Ah, tidak terasa daster itu. cuma buah dada akbar ini konsentrasi pikiranku. Tanganku pun kaku, sementara ada benda yg sejak mulai menggeliat di bawah sana.

sontak ia menghentikanku, bersama formula yg makbul. Tangannya merengkuhku dalam pelukan, sementara bibirnya mencium lembut. Payudaranya menghimpit dadaku. menghasilkan dadaku berdetak sampai saya merasa sanggup mendengarnya.

Ciumannya nikmat. Beda sekali sekali dgn apa yg ada di Televisi. Seakan mau mengaliri dgn hangat jiwanya. ana berciuman lama sekali, tidak terasa tanganku ikut mendekapnya semakin erat. Kulepaskan dekapanku guna mulai sejak mengontrol diri tambah. Berakhirlah sesi ciuman itu.
mengapa� Ragil? anda beram ya?” tanyanya pelan.

Tapi kurang ajar, suara-suara di Televisi itu masih mengacaukanku. Melumpuhkanku masih dalam birahi.
“Maafin bibi ya? bibi� raut itu memasang prana iba guna dikasihi.
dirinya serta menciumku, pass hangat. Namun tidak sehangat tadi kurasa. Akupun tidak mengharap ciuman kasih pengertian, sebab dariku pula lagi keinginan. Ciuman-ciuman itu tukar ke leher dan telinga. Ah, tidak sempat kubayangkan bahwa negara ini lebih membuatku bergidik. Akupun menirunya. ana tukar menciumi leher, apalagi bibi Imas pernah mencium keras.
“Aduh, Tante…”

beliau dulu tersenyum dan berdiri. Perlahan ia mengumbar daster itu, mulai sejak asal tangannya. Satu kepada satu tangan daster itu terurai. Daster melungsur, macet sedikit di bundaran payudaranya yg akbar. dirinya merengkuh ke bawah tambah daster itu. nampak susu, tidak dengan BH. Putih, menyeluruh, akbar, bersama puting susu bermotif merah bujang. Mulutku memengang terpesona seakan mau memakannya. saya menelan ludah.
Diturunkannya juga. saya menikmati satu persatu hidangan lanskap itu. Perutnya putih bersama pinggang yg ramping. Pusarnya jadi penghias di sana. Daster itu macet di pinggangnya. Oh, pantatnya menahan.

saya makin berdebar, mau memperpendek taktik itu, saya mau serta-merta menonton kemaluannya. Diturunkan juga, dan ah… nonok itu unjuk pula. Dihiasi rambut berkeadaan segitiga yg tidak demikian lebat. lisan vaginanya merah waras, sebentar basah. kepada awal kalinya saya menonton perempuan bugil. dgn senyumnya, bangga membuatku tergakum-kagum.

saat ini� anda kembali buka ya?” perintahnya manja.
saya terhubung tshirtku. bibi Imas mengakses celanaku, ampunan jinsku, tapi bibi Imas tidak serta-merta membukanya. ia jongkok dulu menjilati penisku bermula luar lancingan dalam. nampak hina basah sperma yg semakin ditambah oleh air ludah.

Penis itu semakin mengembung dalam lancingan dalam, gaya-gayanya tidak enak kerena terhenti. serta-merta kubuka dan …hup keluarlah batang farji diikuti dua bolanya. bibi Imas mengecupnya, si penis nampak mengembung. makin tegaknya penis diikuti dgn jilatan-jilatan lidah. Uff, enak sekali.
waktu ini gantian tangannya yg bekerja. awal dirabanya seluruhnya bidang penis, dulu mulai sejak mengocoknya. sesudah kemungkinan sudah utuh wujudnya, vertikal dan agung, dimasukkannya ke dalam ucapan. bibi Imas menyaksikan ke atas, wajahnya cerah .

lanjutkan� Tante.”
Lidah bibi Imas menjilat-jilat, kadang menggelitik penisku. dulu mulai sejak memaju mundurkan mulutnya, seakan satu buah kelentit meniduri penis. Ini pandai sekali. kurang lebih 15 menit permainan itu terjadi, hingga…
bibi� aku ingin ke luar� kataku terengah-engah.

bibi Imas malah memperpendek adonan mulutnya. saya ikut cekam kepalanya. Dan keluarlah beliau. saya merasa ada 5 sentakan kencang. bibi Imas tak melepasnya, dia menelannya.
kian masih udak sampai lalu spermanya. Lega jangan-jangan tapi lemas badanku. bibi Imas berdiri, selanjutnya abdi berciuman lagi.

kini� gantian ya…”
sekarang saya menghadapi buah dada rampung saji. perdana kuraba-raba dgn ke-2 tanganku. Remasan itu kubuat berirama. dulu saya mulai sejak bertapa untuk puting susu. Kutarik-tarik sampai payudaranya tergiring dan kulepaskan.

Hmm, gimana jangan-jangan ya? saya sejak mulai menjilatinya. Enak. Jilatanku buat satu susu sementara tangan yg lain mengusap-usap satunya. saat kuhisap-hisap putingnya, terasa semakin mancung, mengejang, dan tebal puting itu. Kulakukan juga kepada buah dada satunya. Oh, nyatanya apabila perempuan terangsang, yg ereksi yaitu puting susunya. agaknya 5 menit saya melakukannya bersama nikmat.

seterusnya jilatanku turun, sampai vaginanya. Kucoba bersama jilatan-jilatan. Kusibakkan semula rambut kemaluannya supaya jilatan lebih lulus. Ada seperti daging mungil yg menyembul. yg kutahu, itu merupakan klitoris. Kuhisap seperti menghisap puting susu, eh bibi Imas merintih.
“Hmm, Ragil, janganlah dihisap. Geli. bibi nggak real.

Dan Tente Imas memang lah lunglai. Tubuhnya berkurang ke kursi panjang. dirinya terlentang bersama paha mengangkang memberi tahu kemaluan berburai dan susu yg berputing lurus. saya teruskan tengah gerakan ini. semakin lama kemaluannya semakin basah. Jilatan dan hisapanku semakin bersifat, sementara di sana bibi meremas-remas payudaranya solo menyangga ektasi.

sontak pahanya mendekap kepalaku dan ..serr seperti ada falsafah lendir mulai sejak vaginanya. Otot liang itu berkontraksi. Inikah orgasme, jago sekali, dan saya melihatnya bersumber pada. tidak kusia-siakan lendir yg berputar, kuhisap dan kutelan.

tampaknya lebih enak bersumber sperma. badan bibi Imas yg bergoyang-goyang hasilnya santai semula. Jepitan pahanya mulai sejak mencatat namun penisku sejak mulai ereksi tengah. Kucium mesra vaginanya seperti saya mencium bibirnya. bibi Iya tersenyum. Bibirnya berbicara “Terima kasih,” namun tidak melaksanakan suara.
Gambar di sinema itu merangsang aku. perempuan berpayudara gede terlentang di atas meja dinas. Diatasnya pria bersama penis panjang dan gede mencabuli payudaranya. Tangan si perempuan menekan payudaranya tunggal supaya merapat, dan penis itu melintasi celahnya.

Kupikir tentu asyik sekali. saya menjilati lalu buah dada bibi Imas, biar basah dan lengket. tidak gegabah dgn hisapan-hisapan di putingnya. sesudah merasa pass, saya sila di muka susu itu. bibi Imas mengatup rekahan payudaranya.

ia tersenyum suka. saya sejak mulai dgn pelan mencampuri jarak susu, seakan itu yaitu liang pukas. Uff, sensasinya luar alami. saya mulai sejak memaju mundurkan penis bersama irama. punca penisku tampak disaat saya berhasil. bila klimaks, tentu spermanya hingga ke raut bibi. Tanganku ikut cekam susu bagi membenarkan hujaman penis. Kadang saya menarik-narik puting susu. saya mencium bibirnya, menaikkan paha di lehernya, setelah itu memusakakan pun penisku.

Dihisap dan jilat juga, seperti tidak puas saja. Posisiku sila tidak enak. saya tidak mampu bersila lantaran bakal menekan lehernya, tangankupun tidak mampu memaju mundurkan kepalanya. Oh, ada sandaran tangan. Empuk tambah. terlebih jikalau bukan buah dada. Sambil saya meremas-remasnya, penis seperti diremas-remas juga.
bibi Imas membikin kemaluanku sedikit, menggandeng tempat 69. hekto meter, kupikir dapat semula. Maka saya ganti situs juga. Tubuhku menghadap bibi Imas, tapi silih berlaga. Penisku di mulutnya, vaginanya di mulutku.

hingga beberapa waktu beta melaksanakan itu. saya tidak tahu apakah bibi memperoleh orgasme pun, tapi dirinya pernah membisu mengulum penisku, pahanya menekan perembukan kepalaku, tapi tidak ada air yg keluar.
“Ragil, berakhir lalu deh.” serunya.
lagi pula saya tambah asyik dgn letak ini. bibi Imas berdiri menuju ke tanur. Rupanya ia minum air dingin. bibi Imas datang. mengambil dua gelas air es dan mengemukakan dua pil yg kuduga obat legal. hamba meminumnya satu-satu. bibi memperhatikanku dulu menyaksikan bioskop itu.

“Kita bercumbu beneran, yuk,” ajaknya.
“Di bathtub yuk.”
beliau mencekam kemaluanku seperti mencekam tanganku, buat menggandeng bersama mengajak penis itu. ana ke kamar mandinya. Bathtub-nya lumayan akbar, saya mulai sejak tambah. Di bawah shower itu berpelukan sambil meraba dan menyabuni.

Nikmat sekali menyabuni payudaranya, senikmat disabuni penisku. tidak ada yg terlewatkan, termasuk juga memek dan anus. diwaktu air sejak mulai penuh, beta berendam. Airnya tidak dikasih busa. Nyaman sekali. dulu saya mulai sejak tukar merangsang, mengakbarkan tekanan terus. bibi Imas udak penisku dalam air, sementara saya membelai-belai vaginanya.

tidak berapa lama ia sila di pinggiran bathtub. kayaknya beliau mau vaginanya dijilat. saya merangkak menjilatinya. Cairannya sejak mulai ke luar lagi.
gunakan� tangan sedang dong,” pintanya lanjut.

saya mengobral saja. Kukocok bersama telunjuk kananku. Kucoba telunjuk dan jari serta, makin asyik. Tangan kiriku membarut klitorisnya. bibi memejamkan matanya mengganjal nikmatnya. Sebelum berlanjut lebih jauh, bibi menghampirkan. memutar balik badannya jadi menungging dan mengakses pantatnya.

nyata-nyatanya mulai sejak tadi saya belum mengeksplorasi wilayah anus. Akupun mencobanya. Kujilat anusnya, reaksi bibi mensupport. Kujilat-jilat semula, awal anus sampai pepek. dulu kocoba masukkan dua jariku juga ke vaginanya dan mengocoknya. Lidahku menjilat-jilat lagi.
negeri belakang yg menggembung berdaging tegar seperti buah dada. Akupun senang. bibi Imas beri tahu reaksi seperti dapat orgasme tengah. Desahannya sejak mulai keras.
“Ragil, bibi ingin ke luar masih nih. segera! gunakan penismu. Ayo masukin penismu. Cumbu bibi, Ragil,” jeritnya terhenti putus-putus.

Astaga, dirty talk sekali. menciptakan saya semakin terangsang. saya siapkan penisku, meskipun agak risau dikarenakan tidak ada pengalaman. bibi Imas mengebur vaginanya tunggal sambil menungguku menyusulkan penis. Penis telah kuarahkan ke vagina.

bibi� nggak dapat masuk, nih,” tanyaku bingung.
“Tekan saja yg logis. Tapi pelan-pelan.”
saya ikuti sarannya, konsisten saja sulit. basic pemula. risikonya penisku cuma merangsang lisan memek saja, mengggosok klitoris, tapi itu malah menciptakan bibi semakin terangsang.
“Ayo masukkan, bibi telah nyaris keluar,”

dgn semangat penuh saya mencoba pun. Dan, sampai. sirah penisku dapat masuk biarpun pengap sekali. bibi Imas bergoyang kepada meraRagiln gesekan sebab klimaksnya makin pada. saat saya mencoba masukkan lebih dalam lanjut bokong bibi bergoyang mahir. Otot vaginanya seperti meremas-remas. Penisku yg meski baru kepalanya saja menikmati remasan kelentit ini. Dan Tantepun orgasme. sesudah itu beliau luntur dan berbaring dalam bathtub. saya telah membentangkan penisku.
bibi� maafin aku ya,” kataku agak menyesal.

saya belum menyusulkan seluruhnya penisku dalam vaginanya ketika beliau orgasme.
“Nggak apa-apa. sirah penisnya telah nikmat, koq. Ayo kita mencoba semula. sekarang ini penis anda ingin dikulum, nggak?” tidak usah tanya. edit saya yg bersila di pinggir bathtub”.
bibi merangkak dan mengulum penisku. Ah, pose seperti ini menghasilkan saya nyaman, seakan saya yg punyai hak. Di tampuk badan yg merangkak itu ada pantat.
Wah, empuknya seperti susu. Akupun meniduri dan meremas-remasnya. Kadang saya mengumpamakan bersama satu tangan terus mengelus-elus belakang, tangan yg lain menyengkak susu. Kenikmatan dobel. sepertinya bibi tambah menikmati sekali.

Ombak berdebur mungil di bathtub itu. KuraRagiln penisku sejak mulai megeluarkan instruksi bakal klimaks. Tumben pass lama sekali saya berkukuh. jangan-jangan lantaran obat yg diberikan bibi. Kuhentikan aktivitas bibi, kuanggukkan kepalaku ke wajahnya yg juga mengulum penisku. bibi berdiri, saya mengikutinya.
bibi terhubung vaginanya, saya menuntun penisku. Kugosok-gosokkan ke vaginanya. Kutemukan klitosinya. Seperti puting susu, kumasukkan klitoris itu ke dalam lubang penisku. Rangsangannya meyakinkan, tambahan pula bibi ingin roboh ambruk tengah seperti diwaktu klitorisnya kuhisap kuat-kuat.

Ok, sekarang ini saya mulai sejak menyusulkan penisku. bibi Imas menggenggam penisku, menatar biar dapat masuk. saya seperti orang bahlul yg mesti diajari terhadap lakukan aktivitas yg kupikir seluruhnya pria semula mampu. nyatanya tak enteng. dgn sulit soak hasilnya sirah penisku masuk.
Seperti tadi, kucoba goyang berkembang meninggalkan kepada membuatnya rampung meneruskan misinya. kelapangan demikian sepi, bisa jadi telah tengah malam. Tapi hujan serta menetes satu-satu. hening. ketika itu, sontak ada ketukan di gerbang hunian. Tok…tok…tok… Dan hamba membisu seperti hendak dipotret saja,
“Imas…Imas, ini saya. bukain pintu gerbang dong…”, sorak seseorang laki-laki.
hamba bagai tersambar geledek, membungkam dalam badai. Hujan tadi berlanjut jadi badai honorarium nada itu.
“Mas Iwan…”, bisik bibi Imas pelan. Penisku cepat lemas, ke luar demikian saja bermula nonok yg sudah sulit lemah berupaya dijebolnya.

“Apa yg mesti kita lakukan?”
saya� dapat berpura-pura…”
bila� aku?”
“Sembunyi saja.” di mana� Kata-kata aku merendah langsung hampir tidak berbunyi. hamba berikhtiar berfikir. Agak susah, dikarenakan sedari tadi cuma memanfaatkan nafsu.
“Imas, anda tidur ya? Bukain dong,” nada Om Iwan seakan detik-detik peledak diwaktu yg kelar meledak. raut bibi Imas sebentar cerah.
saya� ada akal…”
bagaimanakah� tanyaku tidak sabar.
anda� di sini saja lalu. jangan sampai ke luar sebelum kupanggil.”

bibi Imas mendiris pun beliau dalam bathtub, setelah itu ke luar. saya menyembunyikan gapura kamar bersiram, tak terlampaui perbincangan biar dapat menyaksikan kondisi. Kulihat bibi Imas mengambil pakaianku dan menengelamkannya dalam timbunan jemurannya.
Mengelap tambah kursi panjang dgn dasternya, mencampakkan daster itu ke timbunan jemuran. setelah itu terhubung pintu.

Apa yg dilakukannya? ia telah langka? saya mampu mati bila suaminya tahu beta sudah berulah. Belum sih, tapi hanpir menggagahi istrinya. dulu? {Adakah jampi-jampi kepada hirap? saya gugup menghadapi fakta kala ini Di ruangan ini Dalam kondisi ini dgn apa yg sudah kulakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here