Cerita Mesum Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku

0
129

Cerita Mesum Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku

Cerita Mesum Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku
Cerita Mesum Asisten Pribadiku Pemuas Nafsuku

Warung Mesum Perkenalkan namaku Adam. saya begelut di aspek business sejak saya bersila di bangku SMA sampai belum lama ini saya menyandang gelar sarjana. tak seluruh bisnis mampu bejalan dgn mulus, gonta pindai sektor telah saya biasa. saya apalagi berulang hafal perilaku dan kepribadian karyawan/ti tapi belas kasihan, bukan berhasrat buat angkuh. diwaktu sebayaku juga memulai karier alamat bawah, saya telah punyai asisten pribadi yg menyelenggarakan beberapa sektor business yg kumiliki.

Namanya mbak Ratih. Ibu awal dua anak, yg paling akbar bersila di tingkatan 5 SD melainkan yg mungil lagi warga 2 SD. Suaminya bekerja yang merupakan personel honorer di satu buah instansi pemimpin sekalian jadi penolong losmen guna tengah malam harinya. Mbak Ratih berumur 33 th, perempuan yg dibesarkan asal marga menengah dan religius.

nampak asal hijab yg senantiasa dikenakannya dan semula papar tuturnya yg hormat. terkecuali berupa geulis, pakaian tangan panjang dan lancingan tekstil yg wajar beliau kenakan seakan menempa lekukan badan langsingnya, malahan dikala memungut lancingan warna berpikiran menciptakan garis CDnya kelihatan erat mencengkeram bongkahan pantatnya yg mungil namun padat dan kencang itu. tidak jarang mbak Ratih kujadikan angan-angan sexku disaat saya jalankan onani.

diliat berasal kacamata batinku, bentuk mbak Ratih jadi serupa bersama seleb ‘Sarah Vi’ seleb era 90-an yg namanya meroket sejak membintangi drama “Inem pembantu Sexy” biarpun menurutku mbak Ratih lebih tirus atau singset. “Aaahhh…Andai mbak Win belum bersuami…”. malahan ibuku tambah kelihatan solider mbak Ratih. Keduanya memang lah telah silih memahami ketika ibu lagi sekali tempo menolong business gerai makan yg lalu kurintis sampai waktu ini telah merambah katering, rental tenda dan sound sistem, stasiun gas LPG dan semula dalam daya upaya jadi perizinan sahih minuman paket ternama.

seluruh problem berlangsung tidak dengan sengaja. saya yg pula aktif sibuknya merampungkan kuliahku lagi pula ibuku yg janda dan telah pensiun mengasuh diminta kepada lagi di luar kota dgn kanda perempuanku dan suaminya. tidak cuma pada dgn anak, menantu dan cucunya, benar-benar itu lebih baik guna Ibu daripada cuma pandangan hidup berdua denganku yg lebih tidak jarang solo di hunian lantaran kutinggal dgn segala kesibukanku.

automatis depot makan semula terlunta-lunta dan kuputuskan epilog hingga dgn saat yg belum kutentukan. Dilain segi mbak Ratih tengah mengupayakan membentengi penghidupannya, dirinya mengetengahkan pada menerbangkan pegawai dan dia lagi mau bagi mengurus dgn tanggung jawab penuh. Mendengar permintaan permulaan mbak Ratih saya cuma terdiam, tak tambah merta mengabulkannya sampai durja tampang mbak Ratih yg bisanya berseri beralih murung waktu kuungkapkan niatku.

Kulihat seharian mbak Ratih lebih tidak sedikit membisu dan termenung di perapian sambil menyiangi seremoni tanak yang merupakan pekerjaan terahkirnya. jadi tidak tega saya melihatnya. Perlahan kututup gerbang depan kios, kuhampiri mbak Ratih dan kusodrkan duit jumlahnya dua juta Rupiah padanya, mbak Ratih tertegun seterusnya menatapku. Matanya sejak mulai berkaca-kaca dan air mata mulai sejak menetes bermula sisi matanya yg indah.

“Mbak Ratih, ini tolong terlaksana ya” ucapku sambil mengusulkan uang.
“Apa ini mas?” tanyanya diiringi isak tangis.

lokasi tungku yg rata-rata dihiasi tawa, saat ini beralih drastis, terlebih kesempatan haru ketika itu bahkan menaikkan kedekatan hati kami.

“Ini upah terakhir mbak Ratih ditambah singkat sbg kata kata terima kasih aku bagi mbak Ratih…” ucapku.

“Ta…tapi mas…” jawabnya terbatu bata.

saya tidak menjawab namun kuberanikan diri untuh mendapati pergelangan tangan kanannya dan meneruskan duit itu. Mbak Ratih berangkat asal duduknya seterusnya bersimpuh dihadapanku, beliau memeluk ke-2 kakiku bersama erat.

“Mas, ijinkan aku konsisten bekerja bersama mas Adam, aku mengikat bakal bekerja bersama sahih berlaku mas…” kata mbak Ratih berharap.

Mbak Ratih merupalan tulang punggung keluarganya. pendapatan suaminya berasal instansi ditambah bayaran sbg pembela losmen kembali tidak seberapa jikalau di bandingkan dgn penghasilan mbak Ratih disini. tambahan pula keperluan anaknya yg makin bermacam, belum berulang dgn umur mbak Ratih tentu dapat susah dalam mencari kerja baru.

saya memasukan juga uanga itu ke dalam saku celanaku, selanjutnya kuraih ke-2 lengannya, kuangkat badan mbak Ratih maka awak sama-sama berdiri.

sebenarnya� Adam serta belas kasih sama mbak Ratih ga ingin mbak Ratih pergi…mbak Ratih telah kuanggap seperti kakakku sendiri…makasih ya mbak …” ucapku.

Mbak Ratih cuma tertunduk dan terdiam.

“Kog berdiam diri mbak, kata kata Adam ada yg salah ya?” tanyaku.

Mbak Ratih kembali saja terdiam disaat itu. sampai sontak dia menggelengkan kepalanya.

juga� mengapa mbak Ratih terdiam dan tambah sedih?” tanyaku juga. kejadian yg melow sejak mulai membuatku melontarkan kata-kata yg bego dikala itu.

“Kalo mas Adam empati sama aku mengapa aku disuruh berangkat awal sini?” tanyanya ulang. ihwal catur mat bersumber mbak Ratih membuatku meringis menyadari kebodohanku.

telah tanggung basah, entah baik atau tidak baik ahkirnya kuberanikan diri buat tanya bagi mbak Ratih.

“Apakah mbak Ratih pun simpati sama Adam?” tanyaku juga. Mbak Ratih tidak menjawabnya, beliau menjulang kepalanya sedikit menatapku seterusnya tertunduk kembali.

“Kog ga dijawab mbak?” tanyaku. masih rasa haru yg memugas kejadian itu perlahan beralih jadi hasrat bersama kondisi itu.

gagal� tengah kalo dijawab mas, toh bagaimanapun mbak berulang mesti berangkat, walopun mbak menyukai dan kerasan tugas disini sama mas Adam, mas Adam baik dan ga sempat beram …” terangnya.

“Kalo saya tambah ingin mbak Ratih tetep disini…?” ucapku. Kupasang senyumku sambil menuntut tanggapan bersumber mbak Ratih.

yg� bener mas?” tanyanya seolah tidak yakin. dirinya menjunjung kepalanya seiring pancaran kirana wajahnya sedang terlukis. Sambil tidak siuman dia memegangi ke-2 pergelanganku. Perlahan kulepaskan gengaman tangannya dan membawa kedudukan memeluknya. Mbak Ratih tidak memusakakan respon, melainkan posisinya sebentar ditarik ke belakang.

“ya telah, kalo gitu memang lah lebih baik business ini ditutup saja” kataku kecewa. saya menyimpangkan tubuhku seketika, mbak Ratih berupaya mendapatkan lenganku.

amnesti� mas Adam, bukan maksduku menghasilkan mas Adam kecewa, tapi mbak kan telah bersuami dan mas Adam tau dapat perihal itu…” katanya.

“Iya Adam tau kog mbak, tapi Adam makbul makbul belas kasih sama mbak Ratih dan ga peduli bersama suamimu mbak” ucapku.

kini� tersila mbak Ratih, mbak dapat pulang saat ini serta dan besuk ga butuh datang pun kesini atau…?” kataku berikan alternatif bagi mbak Ratih.

“Atau apa mas?’ tanyanya penasaran. beliau serta-merta menyaut kata-kataku sambil tangannya tambah saja cekam lenganku.

saya membalikan badan dan awak tengah tukar berhadapan.

“Atau mbak ingin merebut cintaku dan terus disini …?” jawabku.

tidak dengan meminta komentar darinya, kudekatkan wajahku dan melayangkan ciumanku ke wajahnya. Mbak Ratih tengah berikhtiar mengungsi biarpun tidak ada kata penampikan darinya. Ciuman yg kutujukan ke bibirnya meleset tentang pelipisnya. wangi-wangian jilbab yg istimewa ketika itu makin menimbulkan gangguan hasrat birahiku padanya. Kuangkat wajahnya dan kulayangkan ciumanku ke bibirnya, meskipun benar-benar tidak ada penampikan namun kulihat matanya terpejam erat dan bibirnya dikunci musyawarah nyaris saja menciptakan emosiku terbakar.

saya tidak dapat cabar, saya coba buat mengasuh emosiku dgn mengunggut nafas, kucium keningnya, pipinya, sambil kuusap perlahan punggungnya …

“Maafkan Adam ya mbak…” bisikku.

Kujilati pipinya, pelipisnya, dagunya sampai tepian bibirnya yg kecil hingga hasilnya firman mbak Ratih perlahan tersibak walaupun matanya tengah bawah tanah. Kuhisap perlahan mulut atasnya, ganti cakap bawahnya dan mbak Ratih sedang mulai sejak mengganjar bersama pagutannya .

kira kira nyaris sejumlah jam beta silih berpagutan, sambil kuremas-remas bongkahan pantatnya yg mungil namun kencang itu. kian lancingan tekstil tidak tebal yg dikenakannya tambahan pula mempertaruhkan sensasi pada saya berdua sampai tidak siuman tangan mbak Ratih telah menelusup masuk ke dalam lancingan pendekku, cobalah memperoleh batang kontolku yg telah keras ketika itu. Mbak Ratih telah terbuai dgn permainan saya. bersama sigap jemari mbak Ratih terjadi mengobral kancing lancingan pendekku, mengadakan restlitingnya sampai batang kontolku menimbulkan lurus dalam gengamannya.

Perlahan mbak Ratih menyapu kontolku sewaktu-waktu mengocoknya perlahan. saya sedang tidak masih membisu, kubuka satu persatu kancing bajunya maka nampak payudaranya yg pun buntu bra takaran 34A itu. Kutarik mbak RAtih ke ruangan buntut, tempatku natural tidur tengah hari dan sedang tempatnya beribadah.

suak mbak Ratih terlihat tersipu kala di dalam ruang itu kulucuti seluruh pakaiannya sampai hamba berdua telah sama-sama telanjang. Kurebahkan badannya di atas kasur busa yg reguler saya pakai pada tidur. Kutindih badannya dan terus kujilati seluruhnya tubuhnya. tidak tidak hanya puting susunya yg telah teramat menegang menghiasi ke-2 payudaranya.

“Ssstthhh…aaahhh…” desahnya menyangga rasa nikmat yg saya memberi melalui jilatanku sampai seterusnya dirinya menyorong tubuhku dan berbalik menindihku.

Serangan ganjaran dilakukannya sejak mulai berasal leherku, kian ke-2 putingku juga tidak luput bermula isapan dan jilatan firman mungilnya. Lidahnya cergas menari mengitari ke-2 bola kembarku. Menjilati batang kontolku dan setelah itu memasukan ke dalam mulutnya. Batang kontolku dikocok dgn memanfaatkan mulutnya. Itu dilakukannya tatkala 10 menit. saya hnya dapat mendesah mengganjal nikmat permainan ucapan mbak Ratih di batang kontolku.

“Sssthh…aarrgghh…enak sekali mbak…” desahku.

“Ooohhh mbak saya ingin keluaaarr mbaaakkk….aaahhh…” rancauku.

Kontolku serta berkedut di dalam mulutnya. Seketika air kental spremaku mencerca di dalam rongga mulutnya yg hangat. Mbak Ratih tidak bergeming dan kembali saja menghisap hingga peju yg dimulutnya terus berhamburan. tidak berapa lama batang kontolku kembali mulai sejak santai meskipun konsisten dalam keadaan ketus. Mbak Ratih masih menciutkan kala hisapannya dan setelah itu mengobral kontolku mulai sejak mulutnya. dia tersenyum canggih ke arahku dan seterusnya dgn gigih menyiangi ampas kelebihan peju yg terserak diperutku dgn lidahnya.

Mbak ratih masih menggodaku. mempertunjukkan kontolku dan seterusnya mempertahankan tubuhnya sambil melibas rambutnya dgn ke-2 tangan. Entah itu dilakukan lantaran merasa risih dgn rambutnya yg terpecah sebahu atau memang lah sengaja mau menggodaku.

“Wooww segmen sekali anda mbak…” teriakan hatiku yg memanggil kontolku juga berkedut seolah juga bergejolak mencari kenikmatan.

saya tidak wenang menyangga nafsuku yg mulai sejak bangkit juga. Kutarik tubuhnya sampai waktu ini posisinya seolah bersila berlutut di atas perutku. Kuremas perlahan pantatnya, kumainkan telunjukku di lubang anusnya hingga tubuhnya menggeliat. selanjutnya beliau mendapati kontolku dan memasukannya perlahan ke liang kewanitaannya yg ditumbuhi bulu lebat.

“Sleeeppp…” seiring kontolku menelusup perlahan di liang kewanitaan.

ke-2 paha kecilnya seakan amat sangat legal mengibarkan tubuhnya dalam kedudukan simpuh. tidak selang berapa lama, beliau tukar situs jadi berjongkok. lubang memeknya nampak mengkilat dan mencangah, sececah seterusnya dirinya menasihati batang kontolku bagi berulang menelusup di dalam lubang memeknya. ke-2 tapak tangannya bersandar terhadap perutku seiring kegiatan “upside down” yg dilakukannya.

mungkin saja dikarenakan letak itu lumayan menguras antusiasme, dirinya tengah berebahkan beliau di atas tubuhku. Batang kontolku makin masuk ke dalam seiring bersama kegiatan pinggulnya yg makin serentak sampai badan saya tengah sama-sama canggung waktu lahar panasku membelungsing. Kulihat ke-2 bola matanya naik keatas seolah merasakan objek yg amat sangat dahsyat.

Rasa lelah bergabung nikmat menciptakan aku berdua tambah terhanyut sampai awak pula tukar berpelukan dan tertidur.

“Mas Adam…bangun mas…” menurutnya membangunkanku.

saya coba terhubung mata walau tubuhku berulang terasa capek dan lemas.

“Ayo bangun mas … telah senja …” menurutnya lagi.

“Ha…” jawabku seluruh kagum. Mbak Ratih tersenyum padaku. Kulihat di alroji swiss armyku beri tahu pukul separo 5 senja. Jam rata-rata mbak Ratih memang lah bersigap pulang menuntut anggapan.

“Kopinya dimeja ya mas … Oya akan datang apakah aku tambah dapat datang mas?” tanyanya.

“Iya terima kasih mbak… tentu dapat donk mbak…tapi sedikit mbak…” kataku. saya membawa dua utas duit seratus ribuan dan kuberikan kepada mbak Ratih.

duit� apa ini mas?” bertanya mbak Ratih heran.

untuk� beli buah tangan anak-anak mbak Ratih” jawabku.

“Beneran ini mas?” menurutnya senang.

“Iya mbak…”

matur suwun� ya mas…”

“Tapi ini lalu donk…” kataku sambil kuletakkan jari telunjukku di bibirku dan mbak Ratih juga wawasan bersama titah yg kuberikan.

ana berdua lantas berciuman sesaat sebelum selanjutnya dia berlalu ke luar mendatangi suaminya yg telah menunggunya di luar.

Dominoqq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here